Beginilah Umat Kristiani Dalam Masyarakat Pluralistrik 2/2

Artikel yang satu ini melanjutkan artikel yang sebelumnya, yang mana pada pembahasan di artikel sebelum nya itu adalah umat kristiani dalam masyarakat pluralistrik. Di sini admin akan mengulang kembali beberapa pembahasan pada artikel sebelumnya agar kalian tidak melupakan penjelasan yang sebelumnya, maka langsung saja.  Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan diberikan oleh Allah kepada setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan-Nya dan Juruselamatnya dan hidup berdasarkan firmannya. Namun demikian memasuki abad ke-20, para teolog modern semakin marak mengajarkan bahwa keselamatan  juga terdapat dalam setiap agama dan kepercayaan yang ada  di dalam masyarakat pluralistik.  Lalu bagaimanakah sikap Kristen yang bertahan pada ajaran Alkitab.

Apakah  orang Kristen harus menggeser imannya agar  dapat menyesuaikan dirinya dengan  masyarakat yang beragama dan kepercayaan lain? Bagaimanakah seharusnya orang Kristen hidup berdampingan bersama saudara-saudaranya dengan penuh toleransi?  Apakah memeluk agama Kristen menjadi penghalang baginya untuk hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya dengan penuh toleransi ? Uraian singkat ini ditujukan untuk menjelaskan bagaimana seharusnya orang kristen memandang pluralisme (kemajemukan) dari sudut pandang iman Kristen di tengah-tengah saudara-saudaranya yang menganut kepercayaan berbeda dengannya. Dengan pemahaman yang baik diharapkan,  semakin terbangunnya semangat  hidup saling memahami dan mengasihi satu dengan lainnya, dalam satu masyarakat  pluralistik yang penuh damai sejahtera, jauh dari konflik antar suku, ras dan agama.

 

Keragaman Agama Bukanlah Sumber Politik

Berkembangnya pemahaman pluralisme agama-agama antara lain dimotivasi oleh upaya menghindari berkembangnya radikalisme penganut agama-agama yang menganggap dirinya adalah suatu sistem kepercayaan yang paling benar dan yang lain harus berkonversi kepada Login Sbobet yang paling benar. Sejak semula beberapa agama misi seperti Islam, Kristen mengajarkan sistem kepercayaan yang demikian. Akan tetapi apabila kita amati dengan teliti sebetulnya ajaran keyakinan iman yang sedemikian bukanlah ancaman, apalagi sampai menjadi sumber konflik  terhadap eksistensi satu masyarakat pluraris yang aman dan damai, apabila para penganutnya dapat memahami agamanya dengan benar sesuai dengan kitab sucinya masing-masing karena setiap agama mengajarkan pentingnya perbuatan-perbuatan baik. Jelas, setiap agama melarang umatnya melakukan tindakan kekerasan dan kejahatan kepada sesama manusia. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada salam yang disampaikan oleh masing-masing agama misalnya Assalamualaikum (Islam), Shalom (Kristen dan Yahudi) yang berarti salam damai sejahtera dan demikian juga “Om Shanti, Shanti, Shanti Om pada agama Hindu dan “Nammo Buddhaya” pada agama Budha. 

Apabila sampai terjadi konflik yang melibatkan agama, maka  pastilah ada penyimpangan ajaran ataupun penyimpangan aplikasi dari penganutnya. Sejarah membuktikan bahwa, selama ini, sebetulnya yang menjadi pemicu konflik bukanlah agama-agama,  tetapi lebih kepada friksi politik, terkait perebutan kuasa ataupun wilayah kekuasaan.  Perang Salib yang berlangsung ratusan tahun itu pun,  terjadi sebagai reaksi orang Kristen Eropa yang merasa dihalangi oleh Bani Saljuk (Islam) melaksanakan ziarah ke Yerusalem, karena Bani Saljuk  waktu itu telah merebut dan menguasai Yerusalem  sehingga raja-raja di Eropa serta Paus pun menyetujui diambilnya langkah perang suci untuk merebut kembali Yerusalem. Hal ini  merupakan catatan buruk di dalam sejarah kekristenan yang pernah melibatkan agama Kristen dalam Perang Salib.  Demikian pula pertikaian yang terjadi antara Israel dengan Palestina hingga saat ini, pada dasarnya  bukanlah pertikaian antara agama Islam dengan Yahudi karena di Israel sendiri banyak warga negaranya adalah orang Arab Islam dan Kristen. Demikian juga di Palestina,  banyak juga warga negaranya menganut agama Kristen dan agama Yahudi. Disinilah kita melihat bahwa untuk kepentingan golongan tertentu, agama kerap digunakan untuk berbagai kepentingan politik. Demikian juga konflik antara pemeluk Hindu dan Islam di India bukan diakibatkan oleh masalah-masalah teologis dan agama. 

Memang agama adalah urusan spiritual antara individu terhadap Tuhan (hubungan personal) tapi jangan lupa agama-agama juga memiliki peranan yang penting dalam fungsi sosial kemasyarakatan yang mudah dijadikan alat  politik untuk mencapai tujuan-tujuan yang jahat yang justru sangat bertentangan dengan hakekat agama-agama itu sendiri. Dengan demikian, konflik yang sebenarnya bukanlah konflik antar agama melainkan konflik yang menjadikan sentimen agama sebagai alat politik untuk menghimpun dan memperkuat kekuasaan politik.  Belajar dari banyak kasus seperti itu, maka Indonesia pun akan terhindar dari konflik sara apabila para pemeluknya dapat memahami agama dengan benar. Pelaksanaan agama dengan benar akan menciptakan ketakwaan dan sikap toleransi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat pluralistik  dan menjadi alat pemersatu sebagai kekuatan dalam pembangunan bangsa.

 

Masyarakat Pluralistik dan Iman Kristiani

Masyarakat pluralistik terbentuk dari  keberagaman latar belakang etnis, budaya dan agama ataupun  kepercayaan. Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia diikat oleh falsafah hidup atau “Pancasila” sebagai ideologi Negara yang mempersatukan kepelbagaian potensi bangsa. Kemajemukan  sebagai sebuah kerangka yang mengakomodasi interaksi berbagai kelompok masyarakat dengan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Tanpa konflik, mereka hidup bersama (koeksistensi) dan mewujudkan hasil yang dicita-citakan bersama.  Masyarakat plural adalah  salah satu ciri khas masyarakat modern yang sangat diperlukan dalam mencapai tujuan modernisasi, kemajuan  ilmu pengetahuan, dan pembangunan bangsa. Dalam masyarakat plural, dibutuhkan demokrasi yang dapat menghasilkan partisipasi dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama.  Namun demikian, pluralisme agama  belum tentu sesuai dengan pemahaman masing-masing agama karena masing-masing keyakinan bersifat absolut. Pluralisme agama (Religious Pluralism) jangan disalah mengertikan dengan ‘toleransi’, karena istilah ‘Pluralisme Agama’  adalah berbeda sama sekali. Dalam tradisi Kristen sendiri, terdapat tiga cara pendekatan teologis terhadap agama lain :

 

  • Eksklusivisme: Pendekatan  yang memandang hanya orang-orang menerima Alkitab (Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru selamat) yang akan diselamatkan. Di luar itu, tidak ada  keselamatan.
  • Inklusivisme : Pendekatan yang berpandangan, meskipun Kristen adalah  merupakan agama yang benar, tetapi keselamatan juga mungkin terdapat pada agama lain.
  • Pluralisme: Pendekatan yang memandang semua agama adalah jalan yang sama-sama benar sehingga  tidak ada agama yang dipandang lebih superior dari agama lainnya.

 

Di dalam Negara Pancasila setiap warga dan agama memiliki kebebasan untuk memilih salah satu dari pendekatan tersebut diatas dalam konteks kesatuan dan persatuan. Memilih  salah satu pandangan diatas tidak boleh mengurangi semangat toleransi antar umat beragama dan hal ini sudah terbukti dapat dilakukan, saling menghormati antar suku dan ras dan agama meskipun berbeda-beda. Dalam menunaikan kepercayaannya  setiap kelompok agama tidak boleh mengganggu kenyamanan atau memaksakan kehendaknya kepada yang lain. Namun penting dicatat, sebagai agama misi maka sebagaimana agama-agama lainnya juga, setiap agama tidak boleh dilarang untuk memberitakan ajaran-ajaran agama-agama itu dan bagi mereka yang tertarik, dapat mempelajarinya secara terbuka dan apabila tertarik mereka pun dengan bebas dapat menganutnya atau berpindah kepercayaannya sesuai dengan undang-undang kebebasan untuk memeluk agama dan menjalankan ibadahnya. Tidak boleh ada yang menekan dan mengancam.  Agama Islam, Kristen, Hindhu dan Budha sudah seharusnya  memandang agamanya yang paling benar. 

Beginilah Umat Kristiani Dalam Masyarakat Pluralistrik 1/2

Masyarakat pluralistik adalah karunia dari Tuhan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Karena hal itu, sebagaimana anggota masyarakat lainnya, setiap umat Kristen harus dapat bekerjasama secara maksimal dengan umat beragama lainnya, hidup itu penuh dengan toleransi tanpa harus menganut pandangan pluralisme agama yaitu satu paham yang mengajarkan bahwa keselamatan, terdapat dalam setiap agama. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan diberikan oleh Allah kepada setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan-Nya dan Juruselamatnya dan hidup berdasarkan firmannya. Namun demikian memasuki abad ke-20, para teolog modern semakin marak mengajarkan bahwa keselamatan  juga terdapat dalam setiap agama dan kepercayaan yang ada  di dalam masyarakat pluralistik.  Lalu bagaimanakah sikap Kristen yang bertahan pada ajaran Alkitab.

Apakah  orang Kristen harus menggeser imannya agar  dapat menyesuaikan dirinya dengan  masyarakat yang beragama dan kepercayaan lain? Bagaimanakah seharusnya orang Kristen hidup berdampingan bersama saudara-saudaranya dengan penuh toleransi?  Apakah memeluk agama Kristen menjadi penghalang baginya untuk hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya dengan penuh toleransi ? Uraian singkat ini ditujukan untuk menjelaskan bagaimana seharusnya orang kristen memandang pluralisme (kemajemukan) dari sudut pandang iman Kristen di tengah-tengah saudara-saudaranya yang menganut kepercayaan berbeda dengannya. Dengan pemahaman yang baik diharapkan,  semakin terbangunnya semangat  hidup saling memahami dan mengasihi satu dengan lainnya, dalam satu masyarakat  pluralistik yang penuh damai sejahtera, jauh dari konflik antar suku, ras dan agama.

 

Indonesia Negara Yang Banyak Agama

Indonesia yang berpenduduk lebih dari  237  juta jiwa, terdiri dari 300 kelompok etnik dan 1.340 suku bangsa (sensus BPS tahun 2010) dan tersebar dari Sabang sampai Merauke.  Ada enam agama yang sampai saat ini diakui Pemerintah sebagai agama resmi yaitu Islam, Kristen (Protestan dan Katolik), Hindu, Buddha, dan Konghucu. Selain enam agama di atas, Pemerintah menetapkannya sebagai Aliran Kepercayaan.  Sesuai dengan banyaknya suku bangsa di Indonesia maka tidak heran banyak pula agama-agama asli  di  Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Sunda Wiwitan (Jawa Barat), Kejawen (Jawa), Marapu (Sumba), Kaharingan (Dayak), Parmalim (Batak), Tolotang (Toraja) dan banyak lagi aliran kepercayaan lainnya, yang oleh Pemerintah digolongkan sebagai suatu Aliran Kepercayaan saja. Agama-agama atau Aliran Kepercayaan ini  sudah ada sejak dahulu sebelum masuknya agama besar dunia, seperti halnya Islam, Kristen, Hindu dan Budha.  Sampai abad ke-11 dominasi agama-agama di Nusantara ini,  adalah agama Budha, Hindu, aliran kepercayaan dan animisme. 

 

Sementara itu, agama Islam baru masuk ke Nusantara di abad 11 dibawa oleh para pedagang Arab dari Gujarat India.  Baru kemudian pada akhir abad ke-16, agama Islam, melampaui  jumlah penganut agama Hindu dan Buddha, yaitu agama-agama yang sebelumya dominan pada suku-suku di  Jawa dan Sumatra.  Adapun penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan di luar kepulauan Nusantara sampai  ke Kesultanan Mataram (di Jawa Tengah sekarang), dan Kesultanan Ternate serta Tidore di Kepulauan Maluku di timur. Dominasi penyebaran agama Islam di Indonesia cukup rumit dan berlangsung lama sampai menempati posisi dominan di abad ke-21 ini. Dari sekitar 237 juta penduduk Indonesia, sekitar 87 persen sudah menjadi penganut agama Islam. Namun penting dicatat, bahwa agama-agama yang selama ribuan tahun menjadi agama utama di Nusantara ini adalah agama kepercayaan asli, Hindu dan Buddha,  bukan agama Islam. 

Agama dan Budaya di Indonesia, Sinergitas yang Diakui Dunia! Halaman all -  Kompasiana.com

Budaya Indonesia yang beragam itu telah membuktikan betapa tinggi dan luhurnya budaya nenek moyang kita sehingga beralihnya berbagai suku bangsa di Indonesia dari  penganut agama yang satu menjadi penganut agama yang lainnya,  telah berlangsung dengan proses yang aman,  penuh rasa kekeluargaan dan kasih persaudaraan. Konflik-konflik memang pernah ada di dalam prosesnya, namun hal tersebut lebih terkait kepada kondisi politik dan hegemoni  wilayah perdagangan di zaman itu.  Sejarah perjalanan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa kemajemukan  khususnya agama-agama,  bukanlah menjadi sumber konflik seperti yang sering banyak disebut-sebut beberapa tahun terakhir ini.

 

Manusia Sebagai Makhluk yang Beragama

Menurut Alkitab (Injil), didalam diri manusia yang hidup, terdapat  nafas hidup (roh) yang berasal dari Allah yang dihembuskan oleh Allah kedalam diri Adam pada waktu manusia pertama diciptakan (Kejadian 2:7). Didalam diri manusia ada unsur ilahi,  yang menjadikan manusia itu menjadi makhluk rohani dimana dalam dirinya telah tertanam keinginan untuk selalu mencari sumber keberadaannya atau Penciptanya. Kerinduan kepada Ilahi  menjadi rusak setelah Adam memberontak kepada Tuhan (jatuh dalam dosa), sehingga manusia tidak lagi menginginkan yang baik dari Tuhan saja, tetapi juga menginginkan yang jahat dari iblis.  Manusia  yang diciptakan  serupa dan segambar itu (Kejadian 1:26-27) memang masih memiliki  hati (tempat yang seharusnya diisi oleh Tuhan)  sehingga meskipun sudah jatuh didalam dosa, manusia itu masih dapat memahami adanya Tuhan melalui kebesaran ciptaanNya (Wahyu Umum). Itu sebabnya mengapa manusia itu pada dasarnya adalah makhluk rohani atau manusia agama. 

Bukti Nyata Toleransi Antar Umat Beragama di Dunia

Bagaimana dengan mereka yang tidak percaya adanya Tuhan ? Ya, ketidakpercayaan itulah yang telah menjadi agamanya. Tetapi  jauh di dalam lubuk hatinya manusia memiliki satu kesadaran adanya kekuatan yang jauh lebih besar daripada dirinya (supranatural), yang kerap mendorong batin manusia menanyakan dan mencari Tuhan yang maha kuasa.  Pertanyaan-pertanyaan tentang kuasa-kuasa supranatural itu biasanya menemukan jawabannya melalui lingkungan dimana manusia itu berada, (di dalam kebudayaan),  termasuk ilmu  pengetahuan.  Sejak ribuan tahun manusia memiliki kepercayaan kepada Tuhan dalam berbagai  budaya etnik sendiri atau suku bangsa lainnya karena perjumpaan berbagai suku bangsa dalam wilayah-wilayah habitat manusia. Manusia memiliki pilihan menerima atau menolak agama-agama yang berada dalam wilayah kebudayaannya itu sebagai hak asasinya.

 

Bhineka Tunggal Ika dan Toleransi

Perbedaan dalam Bingkai "Bhinneka Tunggal Ika"

Bhineka Tunggal Ika berarti  “berbeda-beda tetapi tetap satu” adalah falsafah yang digali dari kekayaan bumi nusantara yang sejak dulu sudah berhasil mempersatukan kemajemukan suku, bangsa, dan agama-agama yang ada.  Falsafah ini telah sejak dulu berhasil mempersatukan  Nusantara (Sriwijaya di abad ke-7) meskipun kemudian falsafah tersebut dituliskan oleh Mpu Tantular pada zaman Kerajaan Majapahit  dalam buku Sutasoma lalu dicetuskan kembali oleh Bung Karno, bung Hatta dan para pemimpin lainnya  saat mendirikan Republik Indonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika  ini. Selama ribuan tahun Bhineka Tunggal Ika adalah falsafah atau semboyan hidup bahwa pluralistik adalah realitas Indonesia yang menuntut satu toleransi yang tinggi (intelek). Walaupun Indonesia terdiri dari banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan, yaitu sebangsa dan setanah air. Dipersatukan dengan satu nasionalisme Indonesia untuk mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur. Keanekaragaman termasuk dalam agama,  tidak boleh menjadi sumber pertikaian atau perpecahan tetapi sebaliknya justru keanekaragaman haruslah dapat diterima sebagai aset pemersatu bangsa. Perbedaan haruslah dipandang sebagai suatu hal yang wajar  dan perlu agar dapat menjadi harmonis dan serasi  dalam satu masyarakat majemuk.

Contoh-Contoh Pluralisme dalam Masyarakat di Indonesia

Pluralisme sendiri merajuk dari istilah Plural atau J – A – M – A – K ! atau berarti menjadi arti dari suatu keadaan atau sikap dari toleransi berbagai keragaman etnik dan kelompok-kelompok yang beraneka budaya dalam suatu wilayah atau negara. Nah arti dari kata pluralisme ini sendiri akan manfaat atas keragaman budaya tak hanya bermakna sebagai suatu keadaan dari masyarakat yang beragam, namun bisa dimaknai sebagai rasa atas toleransi yang bisa ditimbulkan dari adanya keberagaman tersebut. Toleransi ini berarti mampu menghargai setiap kepercayaan dan perilaku yang individu yakni sebagai sesuatu yang dianggap benar. 

Disini kita semua benar-benar mengetahui bahwa negara Indonesia menjadi negara dengan berbagai macam keragaman suku bangsa dan budaya serta keyakinan yang ada. Nah keberagaman ini sudah dilihat dari banyaknya aspek , dimulai dari : Aspek Agama ; Latar belakang ; Suku ; Adat istiadatnya ; Sosial Budaya sampai dengan bahasa yang beragam bentuknya. Nah untuk bisa menciptakan negara aman dan terhindar dari bentuk-bentuk konflik sosial, disini kita sangat membutuhkan adanya rasa toleransi tersebut. Jika nantinya masyarakat Indonesia tidak sedikitpun yang memiliki sikap toleransi, maka sudah dipastikan jika negara akan menemui banyak masalah dan juga hambatan yang nyata. 

Oleh sebab itu, sangat amat penting sekali bahwa sikap dari Pluralisme harus bisa dikenalkan dan bisa dikembangkan sejak usia dini. Melalui apa caranya ? mudah dengan melalui Pendidikan Pluralisme saja yang dikembangkan sejak usia dini. Konsep dari Pluralismenya sendiri sangat sederhana, dengan harus saling menghargai dan menghormati adanya perbedaan-perbedaan yang dimiliki. Sebagai contoh akan kami berikan beberapa Contoh dari Pluralisme dalam masyarakat Indonesia. 

Contoh dari konflik Etnis yang ada di Indonesia 

Dari jaman Indonesia Merdeka, berbagai catatan adanya konflik yang terjadi di salah satu daerah memang sudah banyak sekali terdengar, yang paling terkenal adalah mengenai  konflik SARA yang terjadi antara warga Dayak dengan warga Madura di kawasan Kalimantan Tengah. Konflik ini sendiri sudah terjadi dengan menewaskan setidaknya ada 315 orang dari Etnis madura. Hal ini tentu saja akan berdampak pada keberlanjutan dari konflik yang jauh lebih luas sampai ke daerah lainnya seperti kuala Kapuas, Pangkalan Bun hingga ke Palangkaraya. 

Konfliknya sendiri sudah dilatarbelakangi oleh adanya sikap atas 2 orang Pejabat yakni Fedlik dan Lewis yang sudah menjabat di Dinas Kehutanan dan Kantor bappeda dimana mereka sudah berencana dalam membatalkan pelantikan 10 Pejabat Eselon I, II, dan III dikarenakan berasal dari kalangan agama Islam. Ini sungguh miris ! seharusnya keyakinan dari seseorang atau antar umat bisa saling bertoleransi namun ini malah sebaliknya ! yang bisa dijadikan pembelajaran disini adalah Penanaman Pendidikan Pluralisme sebagai sebuah pegangan yang memang seharusnya dimiliki oleh Kedua pejabat tadi. Mereka sudah sangat mencerminkan betapa sangat minimnya rasa toleransi yang mereka miliki hingga mereka melakukan segala cara walaupun harus dengan daftar tangkasnet mengadu domba antar etnis demi menggagalkan sebuah pelantikan pejabat Eselon. 

Perbedaan dari Etnik dan Ras berikutnya sebagai pemicu yakni banyaknya orang-orang dengan Etnis China, lalu Arab, Pakistan sampai dengan Amerika yang ada di Indonesia. Disini kita juga mengetahui bahwa mereka secara fisik sangat berbeda sekali dengan kita, dimana mereka memiliki warna Putih, Kuning dan juga hitam. Tak luput juga melihat bahasa yang digunakan oleh daerah-daerah yang ada di Indonesia seperti halnya Papua – Jawa – Ambon maupun Nusa Tenggara Timur. Mereka semua berbeda tak hanya dari segi bahasa saja, namun pada pakaian, makanan dan minuman yang memang biasa mereka konsumsi. 

Contoh dari Pluralisme dalam Media 

Dengan memiliki berbagai macam Suku daerah yang sudah berdiri langsung dari banyaknya budaya yang beragam. Media juga sudah menjadi salah satu aspek penting yang tak kalah dari kemajuan serta perkembangan Pluralisme itu sendiri. Dan dalam Segi Media, pluralisme ini sendiri menjadi sebuah alat atas penyiaran informasi yang memiliki wewenang secara bebas dan merdeka dimana keberadaannya sudah bisa diakui oleh Negara dan Seluruh Masyarakat Indonesia. Media Massa yang ada di Indonesia harus bisa dijadikan sebagai salah satu wadah kontrol sosial di bawah naungan manajemen Profesional sehingga fungsi Media Sendiri bisa saja berjalan sesuai dengan hukum dan juga sebagaimana mestinya. Selain daripada itu, Dewasa ini media juga harus bisa dijadikan sebagai ajang mengutarakan pendapat sebebas bebasnya. Namun, dalam rangka mengontrol jalannya pemerintahan bukan untuk merugikan salah satu pihaknya. 

Pluralisme dalam Segi Pendidikan di Indonesia 

Disini kita semua juga sudah paham, bahwa  Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki Masyarakat Multikultural. Nah pengertian dari Masyarakat Multikultural itu sendiri adalah setiap daerah memiliki Ciri Khas tersendiri yang berbeda dengan daerah lainnya. Nah Dampak Positif terhadap Keberagaman Budaya memang sudah ada, namun melalui pendidikan bisa saja mengajarkan bahwa Arti Pluralisme ini sangat mutlak untuk bisa dibutuhkan. Sebenarnya apa itu pendidikan Pluralisme ? jadi ini menjadi pendidikan yang memiliki fungsi sebagai wadah dalam melindungi dan menjaga beragam Pluralisme yang ada di Indonesia. Dimulai dari Suku – Agama – Ras hingga Budaya yang ikut saja memunculkan tata Nilai, Keterbukaan dan Dialog bagi penerus bangsa yang khususnya anak muda. 

Pendidikan Pluralisme ini sudah dimaksudkan untuk bisa meningkatkan adanya pemahaman kita mengenai betapa sangat luas dan mampu untuk menembus berbagai Perbedaan Etnis, Budaya dan Agama dengan tujuan ada rasa kemanusiaan yang muncul di sana. Pendidikan dasar kemanusiaan untuk bisa membuka Solidaritas para warga negara. Disini dalam pendidikan Pluralisme juga bisa diharapkan para pendidik bisa mendefinisikan dan menerangkan secara jelas mengenai keberagaman Budaya dalam menghadapi bermacam-macam perubahan yang mungkin saja bisa terjadi di salah satu daerah atau bahkan di dunia sekalipun itu. Nah pendidikan Pluralisme ini diharuskan dapat memberikan respon cepat terhadap segala bentuk perkembangan atau penuntutan persamaan keadilan di lingkungan sekolah misalnya. 

Contoh Budaya dalam Pluralisme 

Disini keberagaman budaya juga bisa menjadi salah satu penyebab terbesar yang seringkali memicu timbulnya Konflik di Indonesia. Ini merupakan salah satu faktor yang menjadi penghalang utama dan juga pemicu masalah dalam suatu kelompok etnik yang mana, Kelompok ini lalai dalam menghargai berbagai macam perbedaan yang ada. Nah hal ini mampu memicu timbulnya persaingan dan menganggap Etnik sendiri sebagai yang terbaik sedangkan etnik lain juga dianggap buruk. Akan tetapi, dengan memahami budaya dalam pluralisme ini, kalian bisa memperkecil timbulnya konflik. 

Masyarakat etnik ini bisa saja diajak untuk belajar dalam memberikan tanggapan terhadap lingkungan sosial sekitar dan membuka kesempatan seluas-luasnya atas contoh Pluralisme dalam masyarakat kepada budaya yang baru saja masuk. Nah budaya yang baru masuk ini, bisa saja disaring terlebih dahulu. Mana yang seharusnya Dipertahankan, mana yang perlu adanya perbaikan. Nah selanjutnya, Pluralisme dalam budaya juga bisa diusahakan dari sikap saling menerima antar etnik yang berdekatan. Hal ini bisa kalian tunjukan dengan melalui kegiatan dari penyatuan dua budaya bersama-sama. 

Jadi itulah beberapa jenis contoh atas Pluralisme Masyarakat yang ada di Indonesia. Semoga rasa Pluralisme Positif selalu kalian kembangkan sampai ke cucu kalian kelak nantinya. Agar mampu menjadi generasi bangsa yang Positif.

Memaknai dengan Benar Arti Pluralisme

Setelah wafatnya KH. Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur, kembalilah isu-isu atas Pluralisme atau Kemajemukan. Nah Isu dari Pluralisme ini sendiri selalu saja dihubungkan dengan peran dari Gus Dur dengan para tokoh lainnya, yang sangat prihatin sekali dengan realistis terkini dari masyarakat Indonesia. Lanjutnyam ada diversitas Masyarakat dengan latar belakang agama, lalu Etnik, Ras dan juga Golongan yang akan menjadikan pijakan untuk secara serius, dan berkelanjutan dalam memperbahasakan mengenai isu Pluralisme dan Implementasinya. 

Well, sebagai bangsa yang Majemuk memang negara Indonesia sudah memiliki potensi sosial dan kultural yang mampu menjadikannya sebagai bangsa besar. Nah disini kebesaran sebagai negara Bangsa ( Nation State ) hanya bisa dideskripsikan melalui penelusuran intens sosial dan budaya yang sangat bervariasi sekali. Selain sebagai bangsa Majemuk, Indonesia boleh sekali bangga dinamakan sebagai negara Demokrasi. Dimana nama yang diberikan kayak sekali, sebab pilar-pilar dari kemajemukan sudah ada dalam tradisi Nusantara ratusan tahun silam. Nah disisi lain, ancaman dari kegagalan sebagai sebuah bangsa Majemuk Tampak, tatkala perilaku mendiskreditkan kelompok Minoritas Agama – lalu Etnik – Ras dan juga Golongan terus saja berlangsung. 

Nilai dari Universal terhadap penghargaan Pluralisme didasarkan pada Asumsi akan Diferensiasi, yang mana sudah menyatu langsung dengan realitas dari Sosial dan Budaya umat manusia, baik itu setelah di Inkorporasikan ke dalam sebuah Nation State maupun, pada Gagasan-gagasan Unifikasi berbagai kelompok Etnik yang masih ada pada tataran Imajiner sebagaimana sudah dimaknasi oleh Ben Anderson. 

Pijakan atas Pluralisme 

Prinsip dasar dari Pluralisme ini adalah Rekognisi tulus Diversitas terhadap semua elemen kemasyarakatan, maka kehidupan bersama di Indonesia harus dengan sadar berhadapan dengan konsep kekayaan dan perbedaan budaya dari segi sebuah negara dengan sekitar 130 Kelompok Etnik, yang sudah terunifikasikan dalam NKRI. nah salah satunya adalah Diktum Universal mengenai Pluralisme atau kemajemukan sebagai sebuah kondisi dimana kelompok dari Minoritas secara penuh ikut berpartisipasi dalam hidup masyarakat. Dimana sudah terdapat dari perbedaan-perbedaan keyakinan dan budaya dihargai. Dengan keuntungan dari mengetahui konsep Pluralisme tersebut, artinya bisa termanifestasikan dalam upaya-upaya meredam gejolak dan fenomena rasisme , format-format diskriminasi terhadap segala hak-hak semua warga negaranya. 

Pluralisme sendiri menjadi konsep kembar untuk Doktrin sekaligus penamaan atas label akal sehat bagi kehidupan bersama semua perbedaan yang telah dimiliki oleh warga negaranya. Sebagai doktrin, Pluralisme ini sendiri selalu mengedepankan adanya kepelbagaian yang bisa terpantulkan secara arif dalam pemikiran masyarakat dan institusi-institui yang  ada. Sebab disini Doktrin Pluralisme bisa menolak Unifikasi paksa atas segala kekayaan budaya, yang sudah dirajut melalui standar Intelektual dan kelembagaan untuk tujuan yang sempit. Serta disini pembangunan Nasional yang mereduksi makna dan Esensi pluralisme itu sendiri. Sebagai penamaan, Pluralisme  menguraikan tentang Diversitas kebudayaan  dan kecenderungan Perpolitikan yang terdapat dalam sebuah negara. 

Wacana atas Pluralisme dalam sejarah dikembang dengan sistem berkelanjutan, dimulai dari reaksi periode  Romantisme terhadap penggagas Konsep pencerahan atau Enlightenment. Disini para pemikir pencerahan beranggapan sudah bahwa, masyarakat dunia sudah diatur oleh sebuah aturan Universal yang nyata. Namun sebaliknya, kaum Romantik sudah berargumentasi bahwa Pemahaman manusia sepanjang sejarah berbeda di antara satu kelompok etnik dan budaya dengan kelompok lainnya dan justru perbedaan kemajemukan inilah yang memberikan makna terhadap kebersamaan hidup. Disini Filsuf Jerman, yakni JG Herder sudah memahami secara Fundamental saja akan kekuatan dari perbedaan kebudayaan – bahasa maupun keyakinan yang ada. 

Perbedaan-perbedaan ini tidak semerta-merta langsung mereduksi arti dari kebersamaan, justru bisa melahirkan adanya identitas bersama dari kelompok-kelompok sosial dengan label-label tipikalnya. Nah pemikiran mengenai Pluralisme Kultural ini sudah turut dimeriahkan pada tahun 1915 lampau. Melalui wacana Kallen, ketika dirinya bisa menerbitkan 2 Esai ternamanya pada The Nation dengan judul Democracy and The Melting Point. Harapannya antara lain, Pemerintah berperan dalam membuka ruang publik atau memang berlaku sangat adil bagi setiap individu tanpa terkecuali dengan hak-haknya masing-masing. 

Konteks bagi Negara Indonesia 

Para pendiri di negara ini, memang sudah memprediksikan adanya kemungkinan terdistorsinya nilai atas kemajemukan, lalu perbedaan dari Dialeniasi, kemudian secara langsung maupun tak langsung yang mendemonstrasikan budaya Adiluhung atas sebuah bahkan lebih kelompok etnik ( agama ) tertentu sehingga, hak-hak dari kelompok Minoritas sudah terpinggirkan. Semboyan langsung dari Bhineka Tunggal Ika sudah tersirat dalam sebuah kemestian legal dan kultural untuk mampu menyadari akan ada yang lainnya ( the others ) dan kesadaran ini bisa bersifat dasariah dan nasional. 

Untuk bisa memahami peranan dominan dari gus Dur di ranah pluralisme, 3 Faktor Dominan bisa saja dipergunakan menakar peranannya, mengapa dirinya begitu tegar dalam mempromosikan Pluralisme di Indonesia. Hal ini bisa didasari atas : 

1| Keyakinan besar atas nilai-nilai Universal dalam Islam yang menjamin hak-hak dari semua warga negara. 

2| Selalu menjunjung tinggi dari Nilai Kosmopolitan, bahwa semua Individu dan kelompok dalam sebuah negara memiliki tempatnya sendiri dan paksaan dari kelompok dengan mayoritasnya ini sebagai malapetaka bagi Pluralisme dan Demokrasinya. 

3| Bisa meyakini dan mengakui akan adanya perbedaan dengan tulus yang merupakan faktor dalam membuatnya memiliki integritas lintas etnik, agama, ras maupun pada Golongan. 

Dari ketiga nilai utama ini memang perlu sekali diteruskan oleh para pemimpin umat, lalu oleh Partai politik dan juga Pemerintahannya Jika masih menghendaki Indonesia sebagai sebuah negara majemuk. Nah tanpa penghargaan terhadap pluralisme, Demokrasi ini hanyalah hayalan bernegara semata saja, dan disini Gus Dur sudah memberikan Kontribusi Fenomenalnya. Jadi itulah sedikitnya memakani dengan benar arti pluralisme yang kami dapatkan sumber utamanya dari situs pmb.lipi.go.id. Apakah kalian memiliki pendapat lain akan pengertian luas dalam memaknai Arti Pluralisme itu sendiri ? 

Contoh dari Pluralisme Masyarakat di Indonesia

Sebagai gambaran yang ada, kami berikan contoh langsung dari Kelompok Etnik Jawa Timur di Era Otonomi Daerah itu sendiri. 

Memperbincangkan kelompok Etnik Jawa Tengah pada era Otonomi daerah sudah menjadi topik yang sangat amat menarik. Hal ini bisa dipicu dari beberapa faktor yang nyata. Pertama disini kalian harus bisa mengetahui bahwa provinsi Jawa Timur ini sendiri masuk ke dalam salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki keragaman etnik dan budaya masyarakat yang sangat banyak nan luas. Nah pada kenyataannya, etnik dan budaya yang sangat luas dan beragam ini menjadi salah satu dasar sebagai bentuk atas pembangunan yang penting. Lalu hanya ada beberapa kelompok etnik saja yang memiliki kesetaraan akses dalam memproses aspek politik dan ekonomi daerah pada masa orde baru. Hingga akhirnya pandangan ahli yang berhasil dipatahkan mengenai adanya penghapusan persoalan etnis melalui pembangunan kemajuan Ekonomi dan sistem politiknya. Sampai pada akhirnya, masuk Implikasi era otonomi daerah pada pengakuan negara terhadap contoh Pluralisme dalam masyarakat di berbagai keragaman etnik dan budaya. 

Nah itu sedikitnya contoh yang bisa kalian ketahui disini, jika ingin lengkap maka kalian bisa cek di artikel selanjutnya ! Terima Kasih…

Faktor yang Menyebabkan Keberagaman Masyarakat di Indonesia

Secara garis besar, keberagaman ini masuk ke dalam sebuah kondisi dalam diri masyarakat yang sudah banyak sekali memiliki perbedaan di dalam berbagai bidang yang ada. Indonesia juga sudah menjadi negara kepulauan yang penuh sekali akan hal-hal yang beragam dengan perbedaannya. Namun perbedaan ini yang menjadikan seutuhnya rasa toleransi tersebut masih ada sampai dengan saat ini. Sebab itulah, kenapa Indonesia memiliki lambang Pancasila dan Lambang dari Bhineka Tunggal Ika. 

Selain itu, keberagaman dari masyarakat Indonesia juga memiliki dampak positif maupun negatif bagi diri sendiri, bermasyarakat, berbangsa dan juga bernegara. Mengenai dampak positif yang ada adalah dengan memberikan adanya manfaat untuk perkembangan dan kemajuan yang nyata. Sedangkan untuk dampak negatifnya sendiri bisa mengakibatkan adanya ketidakharmonisan bahkan adanya perpecahan dari bangsa dan negara. Sedangkan untuk dampak negatif yang didapatkan adalah mampu mengakibatkan sebuah ketidakharmonisan bahkan adanya perpecahan bangsa dan juga negara. 

Dari sinilah kalian bisa melihat adanya faktor-faktor yang menyebabkan keberagaman masyarakat Indonesia itu sendiri. Dengan mampu memahami adanya faktor dari penyebab atas keberagaman masyarakat Indonesia ini memang sangat amat penting sebab masyarakat akan senantiasa hidup secara berdampingan dengan beragam latar belakang yang ada. Jadi apa saja faktor-faktor tersebut ? mari kalian ketahui lebih jelasnya pada bacaan di bawah ini ! 

Dilihat dari Keadaan Geografis Indonesia

Wilayah di Indonesia sendiri sudah terdiri dari 17 Ribu Pulau lebih dan sudah tersebar di daerah Ekuator di sepanjang kurang lebih dari 3.000 Mill. pendatang pertama di kepulauan indonesia menjadi ras Australoid yang mana menyebar sekitar 2.000 tahun yang lalu. Kemudian menyusul langsung untuk ras melanesian Negroid pada tahun 10.000 tahun yang lalu. Kemudian datang lagi untuk Ras Mesolithikum dan terakhir adalah Ras Malayan mongoloid. Dimana untuk ras ini sudah masuk dengan 2 Periode yakni di Zaman Neolitikum dan pada Zaman logam. 

Kondisi dari geografis ini sudah membagi penduduk yang menempati pulau serta daerah sehingga mampu menumbuhkan sebuah kesatuan dari suku bangsa yang berbeda-beda. Setiap kesatuan suku bangsa ini terdiri dari orang-orang yang memang telah disatukan dengan adanya ikatan Emosional yang memandang langsung diri mereka sebagai sebuah identitas sendiri. Kelompok-kelompok mpo slot online terbaru juga yang memang mengembangkan adanya Bahasa, Budaya dan juga Kepercayaan masing-masing. Bahkan mereka juga sudah mengembangkan mitos-mitos mengenai asal usul dari nenek moyang itu sendiri. 

Melihat Keberagaman RAS 

Sudah ada di dalam UUD no.40 pada tahun 2008 mengenai sebuah penghapusan dari Diskriminasi Ras serta Etnis yang menyebutkan langsung Ras ini menjadi golongan bangsa berdasarkan dari Ciri-Ciri Fisik dan juga pada Garis Keturunan yang ada. Dan setiap manusia juga sudah memiliki ciri-ciri perbedaan fisik seperti halnya warna Kulit, lalu Bentuk dan Warna Rambut, Muka, Ukuran dan Bentuk Badan, serta masih banyak lagi yang lainnya. 

Melanjutkan dengan apa yang baru saja kami jelaskan mengenai berbagai macam RAS yang muncul di Indonesia, dan ini sudah menjadi etnik yang nyata seperti : 

  1. Etnik Negroid : memiliki Bentuk Rambut Keriting dan Kulit Berwarna Hitam. 
  2. Etnik Mongoloid : dimana memiliki bentuk rambut Kaku dan juga bentuk mata yang sipit. Selain itu warna kulitnya adalah Kuning Langsat. 
  3. Etnik Kaukasoid : dimana memiliki warna Mata biru, Rambut juga pirang dan kulitnya berwarna Putih. 
  4. Etnik Australoid : yang mana memiliki kulit berwarna Hitam atau Sawo matang.
  5. Etnik Khoisan : ini menjadi etnik dengan Ras Afrika Selatan.

Keberagaman dari Ras penduduk yang ada di Indonesia setidaknya sudah dikelompokkan langsung menjadi 4 besar saja yakni : 

1.1 Ras Mongoloid = sudah terdiri dari Pulau Jawa, Sumatera, bali, NNTB, Kalimantan dan Provinsi Sulawesi. 

2.2 Ras Melanesoid = sudah terdiri langsung dari Papua, Maluku, dan NTT. 

3.3 Ras Asiatic Mongoloid = sudah terdiri langsung dari orang-orang China, Orang jepang dan juga Korea yang mana tersebarnya di seluruh Indonesia. 

4.4 Ras Kaukasoid = yang mana ini masuk langsung dari Orang-Orang India, lalu Orang Timur Tengah, Orang Australia, Eropa dan terakhir ditutup dengan orang Amerika. 

Melihat dari kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman Ras terkadang berpotensi menimbulkan konflik. Dimana konflik ini hanya akan merugikan adanya kelompok-kelompok masyarakat namun, pada bangsa Indonesia secara menyeluruh juga. Maka dari itu, di setiap warga negara Indonesia harus diminta untuk saling menjunjung tinggi adanya rasa persaudaraan – lalu kekerabatan – persahabatan sehingga akan terwujud perdamaian. 

Faktor dari Kondisi Iklim 

Wilayah lingkungan dari hidup suku-suku bangsa juga telah memperlihatkan adanya variasi yang berbeda-beda. Terdapat komunitas yang mengandalkan laut sebagai sumber dari kehidupannya, dan ada juga yang masuk ke dalam komunitas dari pedalaman itu sendiri. Karakter Multikultural tersebut akan terlihat pada tipe masyarakat seperti di Perkotaan maupun Komunitas peralihan ekologis yang memang berbeda-beda. Nah dari perbedaan lingkungan ekologis inilah yang mampu untuk menyebabkan terjadinya perbedaan antara wilayah tersebut. 

Terdapatnya Kelompok Suku Banngsa yang Beraneka Ragam 

Integrasi suku bangsa dalam kesatuan Nasional memang sudah menjadi bangsa Indonesia di dalam kesatuan Wilayah Negara indonesia itu sendiri. Dimana dalam hal ini terdapat 4 peristiwa penting seperti : 

-) Kerajaan dari Sriwijaya pada abad ke-7 dan juga Kerajaan Majapahit di abad ke-8 yang sudah mempersatukan adanya Suku Bangsa Indonesia di dalam kesatuan politis – kesatuan ekonomis dan juga kesatuan sosial yang nyata. 

-) Masuk pada Kekuasaan Kolonialisme Belanda hampir selama 3 Setengah abad juga mampu dalam menyatukan Suku Bangsa di dalam satu kesatuan nasib serta cita-cita yang nyata. 

-) selama adanya pergerakan Nasional, disini Para pemuda Indonesia sudah menolak langsung dalam menonjolkan adanya isu atas kebangsaan dan juga melahirkan langsung Sumpah Pemuda yang ada. 

-) Proklamasi atas Kemerdekaan dari Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 sudah mendapatkan dukungan langsung dari semua suku bangsa yang ada di Indonesia. 

Selain itu, penerimaan masyarakat terhadap adanya perubahan juga bisa diterima baik di Indonesia. Yang mana faktor dari penyebab keberagaman masyarakat Indonesia yang terakhir adalah tentang bagaimana adanya sikap Masyarakat terhadap perubahan yang ada. Sikap Masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan dari budaya dan keberagaman itu sendiri. Ada masyarakat yang mana mampu untuk menerima masuknya kebudayaan baru, dan ada juga masyarakat yang mana menutup langsung adanya kemungkinan masuknya kebudayaan baru. Perbedaan inilah yang akan menciptakan adanya keberagaman budaya serta pandangan yang ada di Indonesia. 

Dan terakhir jangan pernah melupakan adanya peran dari sejarah di salah satu faktor penyebab dari keberagaman masyarakat di Indonesia ini mampu diterima baik juga di Indonesia. Dari tiap wilayah akan memiliki perjalanan sejarahnya masing-masing. Seperti memiliki wilayah atas dasar sejarah Kerajaan Islam yang pastinya memiliki ciri khas dari budaya khusus yang ada di dalamnya. 

Keberagaman Masyarakat Pluralitas di Indonesia

Pluralitas Pluralisme sudah menjadi sebuah realita dan harus diterima sebagai seorang kekayaan Nasional Bangsa Indonesia. Dengan kalian belajar mengenai Pluralitas di negara Indonesia sendiri berarti belajar mengenai kemajemukan masyarakat yang langsung saja terdiri dari keberagaman suku bangsa – lalu ras – agama – pekerjaan dan masih banyak lagi yang lainnya. Jika dilihat dari Geografis Indonesia, maka ini menjadi negara kepulauan yang sudah memiliki banyak sekali perbedaan diantara kebudayaan dan lainnya dari ujung Barat sampai ke Ujung Timur. Ini semua memang negara Indonesia sendiri ada lebih dari 500 Suku Bangsa yang mana, dari sekian banyaknya suku bangsa sudah memiliki unsur-unsur yang sama namun masih banyak juga yang berbeda-beda. Bahkan tak jarang ada yang bertolak belakang antara satu suku dengan suku lainnya, antara 1 agama dengan agama lainnya dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Melihat Pluralitas Pluralisme dari Ilmu Pengetahuan dan Lainnya 

Bisa benar-benar di argumentasikan bahwa sifat dari Pluralistik Pluralisme masuk ke dalam faktor utama di dalam pertumbuhan pesat Ilmu Pengetahuan yang ada. Dan pada giliran yang ada, pertumbuhan pengetahuan bisa dikatakan mampu untuk menyebabkan adanya kesejahteraan manusia menjadi begitu bertambah dikarenakan, jauh lebih besar Kinerja dan pertumbuhan ekonomi serta lebih baik lagi teknologi kedokterannya. Sebagai contohnya kami jelaskan dalam bentuk keberagaman Pluralitas Pluralisme atas Keagamaan dan Kebudayaan. 

1) Melihat Perbedaan Agama 

Terdapat beberapa agama dan banyak sekali aliran kepercayaan yang sudah diakui oleh bangsa Indonesia. Sehingga, dalam hal ini sangat amat lumrah jika sudah melihat adanya upacara sembahyang yang berbeda-beda juga. Kurang lebihnya terdapat 6 agama mutlak yang bisa diakui oleh Bangsa Indonesia, terakhir peresmian ke-6 pada Agama Konghucu. Selain itu, di dalamnya juga masih banyak aliran-aliran kepercayaan seperti halnya masyarakat Kejawen yang umumnya aliran kepercayaan ini dianut oleh orang-orang Jawa. setiap agama memiliki ajaran dan juga peninggalan yang berbeda-beda bagi umatnya. Agama Hindu dan juga Budha sudah meninggalkan berupa Patung dan Relief pada dinding Candi. Sedangkan untuk manasa perkembangan Islam yang ada di Indonesia menjadi hasil seni berganti dengan Relief – Patung, Islam dengan Seni Kaligrafi dan Masjid. Walau demikian, masyarakat yang ada di Indonesia ini mampu untuk mengembangkan Sikap Toleransi dan juga Kerukunan di antara umat beragama. Yang maan toleransi dalam beragama ini mampu untuk menciptakan adanya integrasi sosial didalam masyarakat yang beragam juga. 

2 ) Perbedaan dari Budaya 

Jadi Pluralitas dan Pluralisme di Indonesia sendiri bisa ditemui juga dalam kebudayaannya. Budaya sendiri bisa benar-benar diartikan sebagai suatu kebiasaan atau sebuah pola perilaku akan keterampilan yang langsung saja diwariskan secara turun temurun dan juga sudah dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu. Melalui budaya ini sendirilah yang akan benar-benar menimbulkan sebuah kekhasan yang mampu membedakan manusia dengan makhluk lainnya. 

Menurut dari Sosiolog J.J Hoenigman sudah ada 3 wujud budaya yang terdiri langsung menjadi :

  1. Wujud Gagasan 

Jadi gagasan di dalam budaya sendiri bisa saja berupa sebuah Ide, lalu Nilai, adanya peraturan sampai dengan Norma yang memang memiliki sifat tidak dapat disentuh maupun diraba. Yang mana gagasan ini bisa saja terdapat pada pikiran manusia itu sendiri. Kebudayaan yang berwujud pada gagasan itu sendiri contohnya seperti Norma yang sudah berlaku di lingkungan sekitar, tidaklah tertulis namun ditaati langsung oleh masyarakatnya. 

  1. Wujud Tindakan atau Aktivitas 

Jadi tindakan atau aktivitas ini menjadi kebudayaan yang berupa pada perayaan secara rutin bagi masyarakat tertentu. Aktivitas kebudayaan ini memiliki sifat yang nyata, dan sudah terjadi pada kehidupan sehari-hari dan benar-benar bisa diamati oleh manusia. Contohnya adalah dalam masyarakat Jawa terdapat kegiatan Mitoni atau selamatan 7 bulan dari kehamilan anak pertama. 

  1. Wujud Karya 

Kebudayaan yang satu ini merajuk pada kebudayaan fisik sebagai hasil dari tindakan manusia. Wujud kebudayaan ini bisa berupa pada benda-benda yang mampu untuk dilihat – diraba dan juga didokumentasikan. 

3) Perbedaan pada Suku Bangsanya 

Pluralitas Pluralisme sendiri bisa ditemukan langsung dari banyaknya Suku Bangsa yang hadir di Indonesia. Kurang lebihnya jika dihitung sudah lebih dari 300 Kelompok. Dimana populasi tertinggi sendiri jatuh pada Pulau Jawa. suku yang satu ini tak hanya tinggal di dalam Pulau Jawa tersebut, namun mereka semua melakukan transmigrasi ke pulau-pulau lainnya yang ada di Nusantara. Bahkan hebatnya mereka mampu bertahan juga di negara orang lain. 

4) Perbedaan pada Pekerjaannya 

Untuk pekerjaan sendiri sudah masuk ke suatu aktivitas yang mana dilakukan oleh manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Hal ini memang dikarenakan manusia sangat amat membutuhkan jasa orang lain melalui sebuah pekerjaan yang telah dilakukannya. Pekerjaan ini sudah dikelompokan menjadi 2 yakni sebagai pekerjaan Sektor Formal dan juga Sektor Non Formal. Mengenai pekerjaan dari Sektor Formal terkait langsung dengan adanya suatu sistem yang sudah berlaku baik ini dari sisi Swasta maupun pada sisi Pemerintahannya. Seperti halnya : Perusahaan, lalu Guru, dan juga PNS. sedangkan mengenai pekerjaan Non Formal seperti halnya : Perdagangan – Petani dan juga para Wiraswasta. 

Peranan dan Fungsi dari Keragaman Suatu Budaya 

Jika benar-benar membahas Pluralitas Pluralisme yang ada di negara Indonesia, maka tidak akan ada habisnya dikarenakan memang dari Ujung Timur ke Ujung Barat Budaya yang ada di Indonesia sudah memiliki langsung banyak keberagaman di dalamnya. Contohnya saja pada Tarian Saman dan Tarian Jaipong. Kedua tarian ini menjadi tarian asli dari Indonesia dan hal ini bisa benar-bean menggambarkan betapa kayanya negara Indonesia ini. Ada juga fungsi lain dari keberagaman Budaya dalam sebuah konteks dari pengembangunan Nasional yang diantaranya sebagai sebuah daya tarik bangsa asing, lalu mengembangkan kebudayaan nasional, mulai tertanamnya sikap toleransi, mampu untuk melengkapi hasil dari budaya dan bisa mendorong Inovasi pada kebudayaannya. 

Mengenai ini semua Terhadap Bangsa 

Tidak bisa disangkal adanya sebuah keberagaman tersebut menjadi tantangan bagi Bangsa Indonesia dan sudah menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi Pemerintah di dalam menjaga maupun perbedaan tersebut. Dimana hal ini akan benar-benar memunculkan adanya gejala dari keakuan budaya maupun Ego Culture yang ada dalam tataran tertentu dan mampu untuk mengakibatkan lahirnya prasangka sosial. 

Prasangka inilah yang bisanya menjadi sebuah pemicu utama dari adanya disorganisasi sosial, bahkan adanya disintegrasi sosial juga. Pada dasarnya memang budaya-budaya daerah yang begitu hidup di Indonesia sudah dibangun atas 3 Nilai Dasar yang begitu dominan sekali bernilai religius. Jadi inilah artikel yang bisa kami tayangkan untuk menambah informasi ke para pembacanya mengenai dunia Pluralitas Pluralisme yang sudah begitu menyebar di Indonesia. Jadi intinya, tetap menjaga rasa toleransi ke sesama saja ya guys.

Jenis Pluralisme dan Contohnya di Indonesia

Jika Anda percaya pada pluralisme, sejatinya Anda juga telah percaya bahwa orang-orang dari semua ras, kelas, agama, dan juga berbagai latar belakang harus dapat bergaul dan setara dalam masyarakat tanpa adanya sebuah arti diskriminasi. Dengan pertanyaan itulah secara umum beragam jenis pluralisme sendiri adalah sebuah bentuk kepercayaan pada perbedaan-sebuah filosofi yang mendukung tentang keragaman, toleransi beragama, dan juga multikulturalisme.

Sejarah lahirnya istilah “Pluralisme” ini ditekankan paling keras di Inggris saat awal abad ke-20 oleh sekelompok penulis yang saat itu meliputi Frederic Maitland, Samuel G. Hobson, Harold Laski, Richard H. Tawney, dan juga George Douglas Howard Cole. Mereka adalah orang-orang yang bereaksi terhadap apa yang mereka duga sebagai sebuah pengasingan individu dalam kondisi kapitalisme yang tidak terkendali. Pluralis berpendapat bahwa beberapa aspek negatif yang ada dari masyarakat industri modern mungkin dapat diatasi oleh arti desentralisasi ekonomi dan juga administrasi.

Jenis Pluralisme dan Contohnya di Indonesia

Pluralisme juga merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok penggemar judi s1288 untuk dapat membangun, tidak hanya sebuah kesadaran normatif tetapi juga sebuah kesadaran sosial. Dimana di Indonesia ini kita yang hidup di tengah masyarakat plural dari segi agama, budaya, etnis dan berbagai keragaman sosial lainnya yang harus saling menghargai satu sama lainnya Berikut ini adalah macam-macam pluralisme dan contohnya dalam kehidupan masyarakat.

Pluralisme Sosial

Dalam sebuah ilmu sosial, pluralisme dapat dijadikan juga sebagai sebuah kerangka interaksi dari beberapa kelompok yang berbeda dalam menunjukan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Kelompok-kelompok tersebut hidup bersama dan membuahkan sebuah hasil tanpa konflik asimilasi.

Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam bidang sosial, pluralisme memiliki sebuah pengertian yang sangat dekat dengan toleransi. Pluralisme sosial meyakini bahwa tidak boleh ada sebuah diskriminasi antar manusia, serta sesama manusia yang memang harus saling menghormati dan toleran satu sama lain.

Pluralisme Ilmu Pengetahuan

Dalam bidang ilmu pengetahuan, pluralisme adalah sebuah faktor utama dalam pertumbuhan ilmu pengetahuan. Pluralisme membuat banyaknya teori yang nantinya belum terbukti kebenarannya sebagai salah satu bentuk akan kebebasan berpikir secara ilmiah. Misalnya yang cocok dalam kajian ini sendiri yaitu sebuah teori alam semesta yang mempunyai lebih dari satu (plural) teori dan para ilmuwan yang tidak dapat berkata bahwa teorinya yang paling benar.

Pluralisme Agama

Dalam bidang agama, pluralisme ini tidak dapat dimaknai secara sembarangan atau disamakan dengan pluralisme sosial maupun juga sebuah ilmu pengetahuan. Dalam bidang agama, pluralisme berbeda dengan arti toleransi dan hal tersebut sering menjadi polemik khususnya di Indonesia, karena di Indonesia secara resmi memiliki 5 agama yang dianut oleh masyarakatnya, yaitu agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan juga Budha.

Contoh nyata dalam bidang pluralisme agama di Indonesia misalnya saja ketika ada hari libur Nasional pada tanggal 1 Muharram yang secara jelas bahwa libur tersebut dilakukan untuk merayakan hari Tahun Baru Islam. Akan tetapi dengan adanya sikap pluralism ini secara nasional (dari Sabang-Merauke) akan diliburkan secara massal.

Pluralisme Politik

Salah satu yang juga menjadi bagian daripada pluralisme ini menyangkut soal politik, yang seringkali menjadi pemicu dalam konflik masyarakat. Misalnya saja pada saat menjelang pemilihan Presiden sebagai lembaga eksekutif dan DPR/MPR sebagai lembaga legislatif masyarakat setidaknya harus mengetahui berbeda pilihan itu indah, dengan cara memberikan sebuah penghormatan kepada mereka yang berbeda pada pilihan politik tersebut.

Pluralisme dalam Media

Dengan memiliki berbagai macam suku daerah yang terdiri dari banyak budaya yang sangat beraneka ragam. Media juga menjadi salah satu aspek yang cukup penting yang tidak kalah dari sebuah kemajuan dan perkembangan dari pluralisme itu sendiri. Dalam segi media, pluralisme adalah sebuah alat yang digunakan untuk menyiarkan segala informasi yang memiliki sebuah wewenang secara bebas dan merdeka.

Dimana keberadaannya sudah di akui oleh negara dan juga seluruh masyarakat Indonesia. Media massa yang ada di Indonesia sendiri harus dijadikan sebagai salah satu dari wadah kontrol sosial yang ada di bawah naungan manajemen profesional, sehingga fungsi media sendiri dapat berjalan sesuai dengan peraturan hukum sebagaimana mestinya. Selain itu, sekarang ini media juga harus dijadikan sebagai ajang untuk mengutarakan pendapat sebebas bebasnya namun, dalam rangka mengontrol jalannya sebuah pemerintahan hal tersebut tidak boleh merugikan salah satu pihak.

Pluralisme dari Segi Pendidikan Indonesia

Kita semua sudah mengetahui bahwa Indonesia sendiri adalah salah satu negara yang mempunyai masyarakat multikultural. Pengertian masyarakat multikultural yaitu setiap daerahnya memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari yang lain. Dampak positif keberagaman budaya tersebut memang ada, namun melalui pendidikan mengajarkan arti pluralisme ini sebuah hal yang sangat mutlak untuk dibutuhkan. Apa itu pendidikan pluralisme? Adalah sebuah pendidikan yang berfungsi sebagai wadah untuk melindungi dan menjaga beragam pluralisme yang ada di Indonesia mulai dari suku, agama ras dan juga budaya. Untuk ikut memunculkan tata nilai, keterbukaan dan juga dialog bagi mereka para penerus bangsa khususnya anak muda.

Pendidikan pluralisme yang dimaksudkan untuk dapat sebuah pemahaman kita tentang betapa sangat luas dan mampu untuk dapat menembus berbagai macam perbedaan etnis, budaya dan juga agama dengan tujuan ada rasa kemanusian yang nantinya dapat muncul di sana. Pendidikan dasar kemanusiaan untuk dapat membuka solidaritas para warga negara. Disini, dalam pendidikan pluralisme diharapkan pendidikan nantinya akan dapat mendefinisikan dan menerangkan secara jelas mengenai keragaman budaya dalam menghadapi bermacam-macam perubahan yang mungkin saja dapat terjadi.

Di dalam pendidikan pluralisme diharapkan para pendidik nantinya akan dapat mendefinisikan dan menerangkan secara jelas mengenai keberagaman budaya. Dalam menghadapi bermacam-macam perubahan yang mungkin saja nantinya dapat terjadi di daerah atau bahkan di dunia sekalipun. Pendidikan pluralisme nantinya diharuskan untuk dapat memberikan respon cepat terhadap segala bentuk perkembangan atau penuntutan persamaan keadilan di dalam lingkungan sekolah misalnya.

Contoh Sikap Pluralisme

Sikap pluralisme ini bisa saja terwujud dalam beberapa hal, misalnya saja :

  • Agama : Bidang agama sikap pluralisme dapat diwujudkan dengan menghargai setiap keyakinan dari pemeluk agama lain dengan baik dan tidak merubah keyakinannya sendiri
  • Suku : Dalam suku bangsa seperti di Indonesia ini sikap pluralisme bisa diwujudkan dengan adanya sebuah penghargaan kepada setiap orang yang berasal dari ras yang berbeda. Misalnya saja ketika masyarakat di Pulau Sumatra menerima masyarakat Indonesia yang berasal dari Pulau Sulawesi dengan intonasi dan juga warna kulit badan yang berbeda. Akan tetapi mengutamakan persatuan dan juga kesatuan secara nasional.

Rangkaian penjelasan di atas, secara lengkapnya menjelaskan terkait dengan beberapa macam pluralisme yang ada di Indonesia dan juga contohnya dalam sebuah kehidupan masyarakat.

Demikian itulah beberapa jenis pluralisme dan contohnya di masyarakat Indonesia. Pluralisme adalah sebuah perbedaan yang ada di dalam beberapa jenis kehidupan sosial. Perbedaan tersebut harus dijaga agar tidak terjadinya sebuah konflik.

Cara Menyikapi Pluralisme Keberagaman Agama

Bagaimana menumbuhkan sebuah sikap toleransi yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat? Cara menumbuhkan sebuah sikap toleransi yang ada dalam kehidupan menjadi sangat penting diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak sejak dini. Dengan mengajarkan sikap toleransi, maka anak juga akan terbiasa dengan berbagai perbedaan dan juga dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Toleransi adalah salah satu cara yang digunakan untuk dapat menghargai dan menerima perbedaan atas berbagai perilaku, budaya, agama, dan juga ras yang ada di dunia ini. Toleransi adalah sebuah keniscayaan bagi bangsa majemuk dengan berbagai macam latar belakang suku, agama dan ras seperti halnya yang terjadi di Indonesia.

Cara Menyikapi Pluralisme Keberagaman Agama

Toleransi menjadi sebuah hal yang sangat dibutuhkan oleh sesama masyarakat Indonesia agar nantinya bisa saling membantu satu sama lainnya tanpa memandang suku,agama, ras dan juga antar golongan. Toleransi merupakan sebuah sikap untuk dapat mengerti, memahami dan juga untuk bisa menerima sebuah perbedaan yang ada antar individu. Sikap ini yang tanpa paksaan dan tidak ingin memaksakan orang lain untuk dapat melakukan sebuah hal yang sama.

Perbedaan kepercayaan yang ada di dalam masyarakat, sebagaimana mestinya kita yang tidak boleh saling menjatuhkan hanya karena seseorang berbeda. Terutama untuk dapat membuat keberagaman yang ada di Indonesia ini tetap berjalan. Di negara yang lainnya, tentu mereka tidak memiliki keberagaman agama yang begitu banyak seperti Indonesia. Memang, tugas masyarakat Indonesia saat ini cukup berat. Karena, harus menjaga keberagaman agama agar tetap lestari.

Menerima perbedaan antara suku, agama dan juga kebudayaan dapat dimulai dengan lingkungan sekitar terlebih dahulu. Buat lingkungan masyarakat yang nyaman, tentram dan juga aman. Kemudian, sampaikan kepada saudara yang lainnya bahwa hal tersebut cukup penting untuk dapat dilakukan. Berikut ini adalah beberapa cara untuk dapat menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan masyarakat di tengah pluralisme di Indonesia.

Menghormati Perbedaan

Manusia memandang dan menyikapi apa yang terjadi dalam alam semesta, karena bersumber dari beberapa faktor yang cukup dominan di dalam kehidupannya. Faktor tersebut berasal dari kebudayaan, filsafat, agama kepercayaan, tata nilai masyarakat atau lainnya. Luasnya pandangan manusia tergantung pada faktor dominan yang nantinya akan mempengaruhinya.

Menghargai perbedaan dilakukan sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku didalam masyarakat dan negara. Bila ada perbedaan, musyawarah untuk mencapai mufakat adalah sebuah jalan terbaik. Sedari dini kita ditumbuhkan oleh sikap dan juga rasa saling menghormati dengan baik tanpa memandang usia, agama, ras, dan budaya.

Tidak Bergunjing

Bergunjing adalah sebuah sikap yang tidak baik, membicarakan orang lain. Tidak membicarakan sebuah keburukan orang lain tanpa alasan atau pembuktian. Hal tersebut tentu tidak baik dilakukan di keluarga dan juga di masyarakat.

Menjadi Pendengar yang Baik

Sebagai individu yang baik, perlu ditanamkan juga sebuah rasa empati terhadap orang lain. Contoh sederhana adalah dengan cara mendengarkan pendapat milik orang lain. Juga, nantinya anda akan mampu memahami perasaan orang lain ketika berbicara.

Berbicara Dengan Santun

Berbicara menggunakan bahasa yang baik, sesuai dengan norma yang berlaku. Hindari berteriak dan juga memaki. Tentunya hal tersebut harus disesuaikan dengan norma kesopanan atau adat. Semua hal yang bersumber dari masyarakat atau dari lingkungan masyarakat yang saling berkaitan.

Toleransi Saat Umat Lain Beribadah

Norma agama atau religi, yaitu sebuah norma yang bersumber dari Tuhan untuk mereka umat-Nya. Sebagai seorang individu, perlu ditanamkan juga sebuah rasa toleransi, saat orang lain beribadah menurut kepercayaannya masing-masing.

Tidak Memaksakan Kehendak

Manusia sebagai makhluk sosial terhadap norma-norma yang tumbuh sebagai patokan dalam bertingkah laku dalam kelompok, norma-norma yang dimaksud diantaranya sebagai berikut :

Norma agama atau kepercayaan, yaitu sebuah norma yang bersumber dari Tuhan untuk umat-Nya. Norma kesusilaan ataupun juga moral, yaitu yang bersumber dari hati nurani manusia untuk dapat mengajarkan kebaikan dan juga menjauhi keburukan. Norma Kesopanan atau yang dikenal juga dengan norma adat, bersumber dari masyarakat atau dari lingkungan masyarakat yang memang bersangkutan.

Norma hukum, yaitu sebuah norma yang dibuat oleh masyarakat secara resmi yang dilakukan tanpa adanya sebuah paksaan. Manusia sebagai individu yang hidup ditangan masyarakat, maka sebaiknya tidak melaksanakan sesuatu yang melenceng dan hidup sesuai dengan norma yang berlaku.

Menerima Perbedaan

Tentunya dibutuhkan saling kesepahaman antara individu, keluarga, bertetangga dan dalam masyarakat lingkup kecil demi sebuah keserakahan dan juga kehidupan. Kerjasama yang dilakukan, dilandasi dengan rasa ikhlas dan juga harus penuh dengan tanggung jawab untuk mewujudkan sebuah tujuan bersama.

Jadi, keragaman Indonesia adalah sebuah kekayaan sekaligus berkah bagi bangsa Indonesia. Sudah seharusnya, sesama masyarakat untuk dapat saling menjalin keberagaman yang ada Indonesia. Jangan sampai, keberagaman yang sudah dibangun sejak dahulu menjadi rusak hanya karena kemajuan jaman.

Menghargai Diri Sendiri

Menghargai diri sendiri tentunya dapat dimulai dengan cara mengendalikan diri terhadap sikap-sikap yang tidak sesuai dengan norma yang ada di dalam masyarakat. Seperti pamer, berkunjung dan juga tidak melaksanakan kehendak.

Menghargai Hak Pribadi Orang Lain

Hak asasi tertinggi orang lain adalah sebuah pilihan menentukan agama dan kepercayaannya setiap orang sendiri. Selain itu, hak peribadi orang lain yang diatur dalam undang-undang adalah hak untuk dapat mengelurakan pendapat sesuai dengan norma hukum yang berlaku.

Mengutarakan Apresiasi dan Kritik Sewajarnya

Pro dan kontra yang ada dalam sebuah diskusi merupakan sebuah hal yang wajar. Seseorang nantinya bebas mengutarakan pendapat atau kritik yang nantinya akan disampaikan. Tinggal bagaimana cara seseorang nantinya dapat menyampaikan pendapat tanpa menghakimi lawan bicara.

Mulai dengan apresiasi atas pendapat yang sudah diutarakan oleh lawan bicara, kemudian baru sampaikan pendapat dan juga masukkan dengan tutur kata yang cukup baik. Anda pun nantinya harus menerima kritikan, intinya setiap orang harus saling menerima. Dengan menjaga kenyamanan hati orang lain akan membawa anda dalam sebuah ketentraman hidup dan terhindar dari konflik.

Berteman dengan Semua Orang

Di usia produktif menjadi masa dimana anda dapat mencari teman sebanyak-banyaknya. Di momen ini pula seseorang akan bertemu orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tapi keragaman bukan menjadi masalah jika nantinya seseorang tulus dalam komitmen untuk menghargai pendapat masing-masing.

Perbedaan memang sebuah hal yang bisa dihindari, terlebih kita yang hidup di Indonesia dengan berbagai macam suku, ras dan agama. Membangun dan meningkatkan rasa toleransi sudah menjadi sebuah hal yang harus dibiasakan. Agar nantinya kita sebagai generasi penerus bangsa ini dapat memberikan sebuah kontribusi positif untuk Bangsa Indonesia.

Demikian itulah beberapa cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan pluralisme di Indonesia. Kita sesama manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain, oleh sebab itu menjaga hubungan tetap harmonis adalah sebuah hal yang utama.

Demokrasi, Di Antara Pluralisme

Dalam politik adalah sebuah hal biasa. Kemampuan yang digunakan untuk membentuk kesetimbangan yang ada antara berbagai hal yang diduga saling bertentangan. Adalah karakteristik dari sebuah kepemimpinan. Dengan begitu, pemimpin nantinya harus memiliki sebuah kemampuan untuk merumuskan resolusi. Pasca Pemilu tahun 2019, keterbelahan publik karena sebuah pilihan politik tidak juga mereda setelah sebuah penetapan final yang ada di dalam sidang Mahkamah Konstitusi. Perspektif sebagian publik yang berbeda dengan realitas panggung politik yang ada pada saat itu.

Demokrasi, Di Antara Pluralisme

Kini pandangan atas apa yang akan dilakukan oleh pemimpin yang terpilih, dilakukan untuk menguatkan kembali hubungan sosial dengan situs sbobet yang sempat renggang tersebut. Pada sebuah kesimpulan yang pertama, ada dua narasi penting yang muncul seiring dengan terjadinya pesta demokrasi. Diksi antara dua kubu mewakili aspek pendekatan pluralisme dan neo fundamentalisme di Indonesia. Kita perlu memahami tentang perspektif terkait, sebuah hal yang kita gunakan untuk menganalisis mengkaji nya, untuk keluar dari perangkap kontestasi demokrasi yang tidak berkesudahan. Seolah, konflik politik yang tidak mengenal titik temu dan kompromi. Konflik politik, sejatinya adalah sebuah konflik dari nilai dan moral. Dimana kubu sebagai sebuah penjaga pluralisme, dan sisi lain kelompok yang lainya tertunjuk menjadi pembawa sebuah paham radikal dan di sebut fundamentalisme.

Memaknai Pluralisme

Keberagaman kita, saat ini bisa terpecah bagian kalimat “Saya Pancasila, Saya Indonesia” sekalipun, yang nampak secara salah dipergunakan sebagai sebuah upaya untuk menghilangkan sebuah perbedaan. Yang sejatinya memang hadir dalam kehidupan kemasyarakatan kita. Tubuh bangsa ini, layaknya sebuah ikatan sosial bersama dan juga terus bertumbuh. Proses tersebut kemudian berlangsung secara berkelanjutan. bukan sekedar titi final yang berhenti pasca kemerdekaan.

Pada situasi politik yang mengalami sebuah pembenturan melalui sebuah prose, maka ada moralitas yang dijadikan sebagai sebuah panduan bersama. Setidaknya melalui The Morality of Pluralism, (John Kekes, 2013), mencoba mengajukan sebuah alternatif, yang dilakukan dalam untuk melihat persoalan moralitas dan konflik yang terjadi.

Imajinasi tentang pluralisme, akan sangat terkait  dengan peran vital moralitas. Setidaknya butuh sebuah komitmen pada sebuah nilai-nilai yang berlalu. Hal ini sebagai bentuk dari kesadaran reflektif. Dimana negara memberi sebuah ruang polisi sesuai dengan kehidupan berwarga negara yang penuh dengan pluralitas.

Komponen penting dari sebuah nilai pluralisme, menurut Kekes, meliputi sebuah kenyataan bahwa

  • Konflik nilai merupakan sebuah hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan masyarakat
  • Dibutuhkan sebuah upaya rasional sebagai rumusan atas sebuah resolusi konflik
  • Nilai-nilai yang juga berkembang dalam masyarakat memiliki sebuah kompatibilitas sosial, sehingga tidak dapat diperbandingkan lagi.

Dengan begitu, diketahui semua sistem atau nilai yang sama sebagai mekanisme yang dinilai berbeda oleh setiap orang secara subjektif. Seperti halya relativisme, tidak akan mampu menjelaskan keberadaan pluralisme moral. Sehingga, menurut Kekes, pluralisme yang terletak pada sebuah penghargaan atas keberagaman konsep dan nilai. Dimana kajian pluralisme Kekes, mengambil sebyah dasar di antara konsep monisme dan juga relativisme.

Merujuk kepada sebuah kondisi tersebut, kita perlu untuk dapat memahami bahwa terdapat juga sebuah keterbatasan yang dimiliki secara subjektif. Sehingga, upaya yang dibutuhkan untuk sebuah kemajuan moral dari sebuah kehidupan bermasyarakat, sebagai sebuah hubungan sosial sebagai bentuk cara untuk menghargai masing-masing nilai. Hal tersebut dibutuhkan guna membangun sebuah kemajuan moral dari sebuah kehidupan bermasyarakat.

Kegagalan Demokrasi

Pada sisi yang berbeda, sebuah radikalisme adalah sebuah cara yang kini diarahkan atau ditujukan kepada seluruh kelompok Islam. Perlu juga dipahami, bahwa pada banyak konflik yang terjadi di seluruh penjuru dunia akan sangat terkait dengan latar belakang persoalan keyakinan keberagamaan. Problemnya, relasi tentang aksi dalam sebuah pertentangan tersebut terjadi sebagai sebuah kausalitas. Hal inilah yang kemudian menyebabkan posisi resiprokal yang memicu konflik tidak berkesudahan. Pandangan tentang apa yang disebut sebagai sebuah Radikalisme Islam.

Pada realitanya, radikalisme Islam juga terjadi dan juga berkembang di berbagai negara Barat. Situasi tersebut yang artinya menggambarkan bahwa terjadi ketertarikan untuk melakukan sebuah pendekatan kembali kepada kehidupan masyarakat berdasarkan dengan diri pada kaidah islam atas aspek ekonomi, politik dan budaya. Dengan situasi tersebut, Islam yang kemudian akhirnya mengalami sebuah proses radikalisasi, sebagai sebuah bentuk manifestasi atas sebuah kefrustasian pada sebuah wajah modernitas Barat. Radikalisme islam menjadi antithesis dari hasil proses westernisasi tersebut.

Sementara arus globalisasi, sekarang ini dalam makna perluasan akses ke seluruh dunia. Juga menjadi sebuah sarana cepat sebagai proses internalisasi nilai-nilai Islam yang disalahpahami. Kondisi radikalisasi Islam merupakan sebuah bagian dari konsekuensi dan keterasingan kelompok Islam secara patologis atas semua kemajuaan peradaban sesuai negara barat. Dimana keberadaan Islam politik yang mempergunakan sebuah format demokrasi dipandang sebagai sebuah cara yang gagal dalam mendorong sebuah implementasi Islam sebagai nilai besar yang ada dalam konsepsi kehidupan bernegara.

Sehingga, interpretasi atas Islam disusun ulang diluar konteksnya. Terkait hal tersebut, Kita sudah sepatutnya membuka sebuah ruang dialog. Dengan begitu, Islam menjadi mampu untuk dipahami serta juga dikonfirmasi dengan nilai-nilai yang ada dalam demokrasi.

Esensi dan Eksistensi

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana mendamaikan persoalan yang sudah sedemikian kuat terjadi setelah sebuah kontestasi politik yang sedemikian sengit terjadi ? bagaimana format yang digunakan untuk dapat menyelesaikan pertikaian antar agama tersebut?

Esensi sebuah demokrasi adalah memberikan sebuah ruang hidup bagi perbedaan yang terjadi sebagai sebuah bentuk nilai sebagaimana pluralisme dipahami. Justru tidak dilakukan dengan sebuah upaya yang bersifat memaksa, tetapi membangun sebuah rasa saling memahami di dalam sebuah perbedaan tersebut.

Sementara itu, sebuah eksistensi dari keberadaan yang berbeda-beda dapat dihargai sebagai sebuah bentuk yang alami dari konsekuensi pembangunan kehidupan bersama dalam masyarakat. Termasuk dengan memahami kehadiran neo fundamentalisme sebagai bentuk atas kritik dari gagalnya rintisan demokrasi itu sendiri.

Jadi, apa yang dapat dilakukan ? Seperti yang diungkapkan oleh Oliver Roy, diperlukan sebuah kesadaran bersama untuk membuka lebar ruang dialog. Dilakukan sebagai sebuah upaya yang signifikan. Situasi ini tentu tidak akan terjadi dalam waktu yang pendek saja, terlebih masih tersisa luka hasil kompetisi politik yang ada di antara mereka. Butuh waktu yang cukup untuk keadaan kembali normal.

Sesungguhnya menunjukan diri mewakili sikap pluralisme dan kemudian menempatkan pihak lain sebagai sebuah representasi radikal dari neo fundamentalisme adalah bentuk dari prasangka yang belum tentu memang benar adanya. Terlebih karena dunia politik yang setiap saat berorientasi pada sebuah kepentingan kekuasaan.

Demikian itulah demokrasi yang terjadi antara pluralisme, kini memang sudah saatnya kita melakukan sebuah dialog untuk rekonsiliasi. Karena yang membuat dua kubu saling serang adalah kepentingan politik.Dalam waktu dekat mungkin hal tersebut tidak dapat hilang secara keseluruhan, mengingat masyarakat indonesia hidup dalam pluralisme.

Pluralisme dan Perjuangan Untuk Keadilan

Pada saat banyak orang yang ada di seluruh dunia sedang menghadapi sebuah pengawasan, penangkapan, serangan dan bahkan juga pembunuhan. Saat ini kita akan berbicara dalam sebuah topik pluralisme dan juga sebuah perjuangan untuk keadilan dan juga kesetaraan. Ini adalah sebuah topik yang telah ada dan menjadi topik yang mendesak di seluruh dunia. Konflik yang berbasis identitas adalah sebuah konflik yang sudah ada dna juga sudah berdiri sejak waktu yang lama. Tapi dalam satu tahun terakhir ini kita telah melihat lebih banyak narasi beracun yang tersebar di seluruh dunia. Pemimpin telah menyajikan sebuah retorika beracun yang menyalahkan seluruh kelompok untuk sebuah keluhan sosial dan ekonomi penduduk.

Kita yang tidak pernah bisa rapi untuk dapat mendefinisikan sebuah identitas kita sendiri, tentu saja. Bagi kita semua, identitas kita adalah sebuah gabungan dari banyak hal yang berbeda yang terdiri dari identitas atas jenis kelamin, asal etnis, warna kulit, keyakinan agama. Ini identitas yang pastinya akan berbeda saling mempengaruhi satu sama lain dalam sebuah cara yang kompleks. Namun, dalam artikel ini ingin fokus terutama pada penggunaan sinis menyangkut agama dan juga tentang identitas keagamaan, yang digunakan sebagai salah satu senjata oleh para pemimpin yang berusaha untuk membelah dan juga menyalahkan.

Pluralisme dan Perjuangan Untuk Keadilan

Kita juga bisa lihat di Eropa bagaimana dengan nilai-nilai lama sekularisme yang datang dari sebuah tekanan yang meningkat diakibatkan oleh narasi beracun yang menyalahkan seluruh kelompok untuk kecemasan dan juga ketakutan masyarakat. Misalnya saja Anda hanya perlu melihat sebuah sasaran diskriminatif Muslim di bawah keadaan darurat yang ada di Perancis. Dan kita yang melihat tingginya tingkat konflik yang ada di banyak bagian dunia. Perjuangan garis agama atau yang terjadi di sektarian Timur Tengah dan Afrika Utara masih terjadi dalam skala yang mengkhawatirkan, sementara kelompok-kelompok bersenjata yang melakukan sebuah kekerasan mematikan di atas nama agama yang dilakukan di Afrika Barat. Dalam artikel ini kita akan bahas tantangan pluralisme yang terjadi di seluruh dunia, dan bagaimana menyikapinya.

Indonesia

Mari kita mulai dengan Indonesia, yang seperti kita ketahui saat ini negara Indonesia merupakan negara dengan Mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sebelumnya juga telah memiliki banyak agama lainnya seperti Hindu dan Budha, dan Kristen, yang sudah ada sejak lama. Namun, meskipun kebergamanan yang ada di Indonesia sangat kompleksitas, tentunya di warnai dengan sejarah panjang yang bergolak. Indonesia mungkin dahulu bisa membanggakan hal tersebut dengan keharmonisan agama yang berbeda. Dalam hal ini banyak yang kagum dengan Indonesia. Namun komitmen konstitusional untuk pluralisme, dan juga tradisi liberal lama yang memungkinkan gerakan sosial yang kuat untuk dapat berkembang.

Pancasila, merupakan sebuah prinsip dasar Indonesia, memberikan mandat yang kuat untuk keadilan sosial dan persatuan. Dibandingkan dengan beberapa negara lain dengan jumlah populasi sama besar dan kompleks namun tidak banyak negara seperti Indonesia yang benar-benar berhasil sebagai negara pluralisme. Meskipun tetap adanya konflik yang terjadi. Tentang ketegangan agama yang kemudian diaduk dan dimanfaatkan untuk sebuah kepentingan sekelompok orang.

Membedah masalah

Mereka yang menggeluti dunia politik, umumnya akan berhasil ketika mereka menggunakan rasa takut atau keluhan dan memasuknya. Ketika kita sedang berbicara tentang sebuah toleransi agama, jarang dimulai dengan sebuah kekerasan. Kekerasan yang terjadi dalam suatu lingkungan yang biasanya memang memungkinkan. Jadi hal itu semua berasal dari budaya diskriminasi, sering di buat lebih mudah oleh sebuah kebijakan yang hanya menargetkan kelompok-kelompok tertentu saja.

Jadi narasi mendelegitimasi sebuah kelompok minoritas atau orang luar. Hal ini nantinya akan menyebabkan marginalisasi dan diskriminasi, dan nantinya hal ini pada akhirnya akan menyebabkan kekerasan. Negara yang tidak netral, adalah dengan membela identitas agama suatu bangsa, cara tersebut diharapkan. Keadilan yang hampir tidak pernah dilakukan.

Pengalaman panjang dan juga pahit telah bangsa Indonesia rasakan, menunjukkan kepada kita tentang bagaimana masyarakat di gunakan sebagai sebuah alat kekerasan. Biasanya individu atau kelompok yang mengatasnamakan mereka fanatik, adalah salah satu contoh dari masyarakat yang sukses sebagai bagian pluralisme.

Diskriminasi

Tentang Diskriminasi, ketika ada satu kelompok yang tidak diperlukan sama oleh negara. Di Indonesia, kita telah melihat ini, seperti beberapa berita pengambilan tempat ibadah oleh masyarakat lokal. Atau sebuah cara yang menyimpang dari putusan pengadilan, menolak untuk mengizinkan sebuah tempat ibadah untuk buka kembali. Tentunya sebuah kerukunan masyarakat yang tidak akan terjadi ketika mayoritas menekan minoritas. Serta atas nama agama, kita yang juga bisa melihat sebuah diskriminasi terhadap perempuan melalui hukuman yang ada di Aceh. Misalnya saja tentang Undang-undang tentang “perzinahan” memiliki sebuah dampak yang tidak proporsional untuk wanita. Tentunya ini bukan merupakan sebuah hal yang tepat, untuk mendapatkan hukuman yang tidak sesuai.

Perundang-undangan

Ketiga adalah di mana undang-undang yang digunakan untuk menegakkan agama dan masyarakat. Ini adalah masalah yang masih ada di Indonesia. Meskipun di negara ini jaminan kebebasan beragama sudah dijamin dalam konstitusi. Namun hal ini tetap melarang kegiatan mereka yang menyebarkan ajaran agama diskriminasi secara langsung. Hukum diskriminasi yang ada di Indonesia menjadi sebuah hal yang juga merusak juga. Tidak hanya secara diskriminatif, tapi juga suatu hal yang diterapkan khususnya terhadap mereka yang termasuk ke dalam agama minoritas. Atau mereka yang lebih memilih keyakinan yang menyimpang dari prinsip utama agama yang sudah diakui secara resmi.

Seperti tuduhan yang dilakukan terhadap Mantan Gubernur DKI Jakarta yaitu Basuki Tjahaja Purnama, atau yang lebih dikenal sebagai Ahok. Dengan cara membuat komentar di dalam video yang diposting dengan narasi penghinaan ayat-ayat Alquran, padahal video tersebut palsu dan editan. Namun pemerintah yang lebih tertarik untuk memenuhi sebuah tuntutan dari sebuah kelompok agama daripada membela sebuah pluralisme serta kesetaraan antara manusia. Pada akhirnya, hukum tersebut ada untuk memperkuat gagasan bahwa bangsa memiliki satu agama saja.

Demikian itulah pluralisme dan perjuangan untuk keadilan. Dimana seperti sekarang ini lebih banyak konflik yang bermunculan terkait isu minoritas dan mayoritas yang digoreng agar menghasilkan sebuah konflik. Biasanya di buat oleh orang yang memiliki kepentingan tertentu. Semoga dengan adanya artikel ini mata kita lebih terbuka tentang pandangan pluralisme yang tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di dunia. Setiap perbedaan tidak menjadikan sebuah penghalang untuk sebuah kerukunan, dengan perbedaan tersebut kita yang dapat lebih menjalani hidup dengan kompleks. Mengakui tentang pandangan orang lain adalah sebuah hal yang harus kita lakukan. Begitu juga nantinya yang akan orang lain lakukan kepada kita.