Pluralisme dan Perjuangan Untuk Keadilan

Pada saat banyak orang yang ada di seluruh dunia sedang menghadapi sebuah pengawasan, penangkapan, serangan dan bahkan juga pembunuhan. Saat ini kita akan berbicara dalam sebuah topik pluralisme dan juga sebuah perjuangan untuk keadilan dan juga kesetaraan. Ini adalah sebuah topik yang telah ada dan menjadi topik yang mendesak di seluruh dunia. Konflik yang berbasis identitas adalah sebuah konflik yang sudah ada dna juga sudah berdiri sejak waktu yang lama. Tapi dalam satu tahun terakhir ini kita telah melihat lebih banyak narasi beracun yang tersebar di seluruh dunia. Pemimpin telah menyajikan sebuah retorika beracun yang menyalahkan seluruh kelompok untuk sebuah keluhan sosial dan ekonomi penduduk.

Kita yang tidak pernah bisa rapi untuk dapat mendefinisikan sebuah identitas kita sendiri, tentu saja. Bagi kita semua, identitas kita adalah sebuah gabungan dari banyak hal yang berbeda yang terdiri dari identitas atas jenis kelamin, asal etnis, warna kulit, keyakinan agama. Ini identitas yang pastinya akan berbeda saling mempengaruhi satu sama lain dalam sebuah cara yang kompleks. Namun, dalam artikel ini ingin fokus terutama pada penggunaan sinis menyangkut agama dan juga tentang identitas keagamaan, yang digunakan sebagai salah satu senjata oleh para pemimpin yang berusaha untuk membelah dan juga menyalahkan.

Pluralisme dan Perjuangan Untuk Keadilan

Kita juga bisa lihat di Eropa bagaimana dengan nilai-nilai lama sekularisme yang datang dari sebuah tekanan yang meningkat diakibatkan oleh narasi beracun yang menyalahkan seluruh kelompok untuk kecemasan dan juga ketakutan masyarakat. Misalnya saja Anda hanya perlu melihat sebuah sasaran diskriminatif Muslim di bawah keadaan darurat yang ada di Perancis. Dan kita yang melihat tingginya tingkat konflik yang ada di banyak bagian dunia. Perjuangan garis agama atau yang terjadi di sektarian Timur Tengah dan Afrika Utara masih terjadi dalam skala yang mengkhawatirkan, sementara kelompok-kelompok bersenjata yang melakukan sebuah kekerasan mematikan di atas nama agama yang dilakukan di Afrika Barat. Dalam artikel ini kita akan bahas tantangan pluralisme yang terjadi di seluruh dunia, dan bagaimana menyikapinya.

Indonesia

Mari kita mulai dengan Indonesia, yang seperti kita ketahui saat ini negara Indonesia merupakan negara dengan Mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sebelumnya juga telah memiliki banyak agama lainnya seperti Hindu dan Budha, dan Kristen, yang sudah ada sejak lama. Namun, meskipun kebergamanan yang ada di Indonesia sangat kompleksitas, tentunya di warnai dengan sejarah panjang yang bergolak. Indonesia mungkin dahulu bisa membanggakan hal tersebut dengan keharmonisan agama yang berbeda. Dalam hal ini banyak yang kagum dengan Indonesia. Namun komitmen konstitusional untuk pluralisme, dan juga tradisi liberal lama yang memungkinkan gerakan sosial yang kuat untuk dapat berkembang.

Pancasila, merupakan sebuah prinsip dasar Indonesia, memberikan mandat yang kuat untuk keadilan sosial dan persatuan. Dibandingkan dengan beberapa negara lain dengan jumlah populasi sama besar dan kompleks namun tidak banyak negara seperti Indonesia yang benar-benar berhasil sebagai negara pluralisme. Meskipun tetap adanya konflik yang terjadi. Tentang ketegangan agama yang kemudian diaduk dan dimanfaatkan untuk sebuah kepentingan sekelompok orang.

Membedah masalah

Mereka yang menggeluti dunia politik, umumnya akan berhasil ketika mereka menggunakan rasa takut atau keluhan dan memasuknya. Ketika kita sedang berbicara tentang sebuah toleransi agama, jarang dimulai dengan sebuah kekerasan. Kekerasan yang terjadi dalam suatu lingkungan yang biasanya memang memungkinkan. Jadi hal itu semua berasal dari budaya diskriminasi, sering di buat lebih mudah oleh sebuah kebijakan yang hanya menargetkan kelompok-kelompok tertentu saja.

Jadi narasi mendelegitimasi sebuah kelompok minoritas atau orang luar. Hal ini nantinya akan menyebabkan marginalisasi dan diskriminasi, dan nantinya hal ini pada akhirnya akan menyebabkan kekerasan. Negara yang tidak netral, adalah dengan membela identitas agama suatu bangsa, cara tersebut diharapkan. Keadilan yang hampir tidak pernah dilakukan.

Pengalaman panjang dan juga pahit telah bangsa Indonesia rasakan, menunjukkan kepada kita tentang bagaimana masyarakat di gunakan sebagai sebuah alat kekerasan. Biasanya individu atau kelompok yang mengatasnamakan mereka fanatik, adalah salah satu contoh dari masyarakat yang sukses sebagai bagian pluralisme.

Diskriminasi

Tentang Diskriminasi, ketika ada satu kelompok yang tidak diperlukan sama oleh negara. Di Indonesia, kita telah melihat ini, seperti beberapa berita pengambilan tempat ibadah oleh masyarakat lokal. Atau sebuah cara yang menyimpang dari putusan pengadilan, menolak untuk mengizinkan sebuah tempat ibadah untuk buka kembali. Tentunya sebuah kerukunan masyarakat yang tidak akan terjadi ketika mayoritas menekan minoritas. Serta atas nama agama, kita yang juga bisa melihat sebuah diskriminasi terhadap perempuan melalui hukuman yang ada di Aceh. Misalnya saja tentang Undang-undang tentang “perzinahan” memiliki sebuah dampak yang tidak proporsional untuk wanita. Tentunya ini bukan merupakan sebuah hal yang tepat, untuk mendapatkan hukuman yang tidak sesuai.

Perundang-undangan

Ketiga adalah di mana undang-undang yang digunakan untuk menegakkan agama dan masyarakat. Ini adalah masalah yang masih ada di Indonesia. Meskipun di negara ini jaminan kebebasan beragama sudah dijamin dalam konstitusi. Namun hal ini tetap melarang kegiatan mereka yang menyebarkan ajaran agama diskriminasi secara langsung. Hukum diskriminasi yang ada di Indonesia menjadi sebuah hal yang juga merusak juga. Tidak hanya secara diskriminatif, tapi juga suatu hal yang diterapkan khususnya terhadap mereka yang termasuk ke dalam agama minoritas. Atau mereka yang lebih memilih keyakinan yang menyimpang dari prinsip utama agama yang sudah diakui secara resmi.

Seperti tuduhan yang dilakukan terhadap Mantan Gubernur DKI Jakarta yaitu Basuki Tjahaja Purnama, atau yang lebih dikenal sebagai Ahok. Dengan cara membuat komentar di dalam video yang diposting dengan narasi penghinaan ayat-ayat Alquran, padahal video tersebut palsu dan editan. Namun pemerintah yang lebih tertarik untuk memenuhi sebuah tuntutan dari sebuah kelompok agama daripada membela sebuah pluralisme serta kesetaraan antara manusia. Pada akhirnya, hukum tersebut ada untuk memperkuat gagasan bahwa bangsa memiliki satu agama saja.

Demikian itulah pluralisme dan perjuangan untuk keadilan. Dimana seperti sekarang ini lebih banyak konflik yang bermunculan terkait isu minoritas dan mayoritas yang digoreng agar menghasilkan sebuah konflik. Biasanya di buat oleh orang yang memiliki kepentingan tertentu. Semoga dengan adanya artikel ini mata kita lebih terbuka tentang pandangan pluralisme yang tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di dunia. Setiap perbedaan tidak menjadikan sebuah penghalang untuk sebuah kerukunan, dengan perbedaan tersebut kita yang dapat lebih menjalani hidup dengan kompleks. Mengakui tentang pandangan orang lain adalah sebuah hal yang harus kita lakukan. Begitu juga nantinya yang akan orang lain lakukan kepada kita.