Beginilah Umat Kristiani Dalam Masyarakat Pluralistrik 2/2

Artikel yang satu ini melanjutkan artikel yang sebelumnya, yang mana pada pembahasan di artikel sebelum nya itu adalah umat kristiani dalam masyarakat pluralistrik. Di sini admin akan mengulang kembali beberapa pembahasan pada artikel sebelumnya agar kalian tidak melupakan penjelasan yang sebelumnya, maka langsung saja.  Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan diberikan oleh Allah kepada setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan-Nya dan Juruselamatnya dan hidup berdasarkan firmannya. Namun demikian memasuki abad ke-20, para teolog modern semakin marak mengajarkan bahwa keselamatan  juga terdapat dalam setiap agama dan kepercayaan yang ada  di dalam masyarakat pluralistik.  Lalu bagaimanakah sikap Kristen yang bertahan pada ajaran Alkitab.

Apakah  orang Kristen harus menggeser imannya agar  dapat menyesuaikan dirinya dengan  masyarakat yang beragama dan kepercayaan lain? Bagaimanakah seharusnya orang Kristen hidup berdampingan bersama saudara-saudaranya dengan penuh toleransi?  Apakah memeluk agama Kristen menjadi penghalang baginya untuk hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya dengan penuh toleransi ? Uraian singkat ini ditujukan untuk menjelaskan bagaimana seharusnya orang kristen memandang pluralisme (kemajemukan) dari sudut pandang iman Kristen di tengah-tengah saudara-saudaranya yang menganut kepercayaan berbeda dengannya. Dengan pemahaman yang baik diharapkan,  semakin terbangunnya semangat  hidup saling memahami dan mengasihi satu dengan lainnya, dalam satu masyarakat  pluralistik yang penuh damai sejahtera, jauh dari konflik antar suku, ras dan agama.

 

Keragaman Agama Bukanlah Sumber Politik

Berkembangnya pemahaman pluralisme agama-agama antara lain dimotivasi oleh upaya menghindari berkembangnya radikalisme penganut agama-agama yang menganggap dirinya adalah suatu sistem kepercayaan yang paling benar dan yang lain harus berkonversi kepada Login Sbobet yang paling benar. Sejak semula beberapa agama misi seperti Islam, Kristen mengajarkan sistem kepercayaan yang demikian. Akan tetapi apabila kita amati dengan teliti sebetulnya ajaran keyakinan iman yang sedemikian bukanlah ancaman, apalagi sampai menjadi sumber konflik  terhadap eksistensi satu masyarakat pluraris yang aman dan damai, apabila para penganutnya dapat memahami agamanya dengan benar sesuai dengan kitab sucinya masing-masing karena setiap agama mengajarkan pentingnya perbuatan-perbuatan baik. Jelas, setiap agama melarang umatnya melakukan tindakan kekerasan dan kejahatan kepada sesama manusia. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada salam yang disampaikan oleh masing-masing agama misalnya Assalamualaikum (Islam), Shalom (Kristen dan Yahudi) yang berarti salam damai sejahtera dan demikian juga “Om Shanti, Shanti, Shanti Om pada agama Hindu dan “Nammo Buddhaya” pada agama Budha. 

Apabila sampai terjadi konflik yang melibatkan agama, maka  pastilah ada penyimpangan ajaran ataupun penyimpangan aplikasi dari penganutnya. Sejarah membuktikan bahwa, selama ini, sebetulnya yang menjadi pemicu konflik bukanlah agama-agama,  tetapi lebih kepada friksi politik, terkait perebutan kuasa ataupun wilayah kekuasaan.  Perang Salib yang berlangsung ratusan tahun itu pun,  terjadi sebagai reaksi orang Kristen Eropa yang merasa dihalangi oleh Bani Saljuk (Islam) melaksanakan ziarah ke Yerusalem, karena Bani Saljuk  waktu itu telah merebut dan menguasai Yerusalem  sehingga raja-raja di Eropa serta Paus pun menyetujui diambilnya langkah perang suci untuk merebut kembali Yerusalem. Hal ini  merupakan catatan buruk di dalam sejarah kekristenan yang pernah melibatkan agama Kristen dalam Perang Salib.  Demikian pula pertikaian yang terjadi antara Israel dengan Palestina hingga saat ini, pada dasarnya  bukanlah pertikaian antara agama Islam dengan Yahudi karena di Israel sendiri banyak warga negaranya adalah orang Arab Islam dan Kristen. Demikian juga di Palestina,  banyak juga warga negaranya menganut agama Kristen dan agama Yahudi. Disinilah kita melihat bahwa untuk kepentingan golongan tertentu, agama kerap digunakan untuk berbagai kepentingan politik. Demikian juga konflik antara pemeluk Hindu dan Islam di India bukan diakibatkan oleh masalah-masalah teologis dan agama. 

Memang agama adalah urusan spiritual antara individu terhadap Tuhan (hubungan personal) tapi jangan lupa agama-agama juga memiliki peranan yang penting dalam fungsi sosial kemasyarakatan yang mudah dijadikan alat  politik untuk mencapai tujuan-tujuan yang jahat yang justru sangat bertentangan dengan hakekat agama-agama itu sendiri. Dengan demikian, konflik yang sebenarnya bukanlah konflik antar agama melainkan konflik yang menjadikan sentimen agama sebagai alat politik untuk menghimpun dan memperkuat kekuasaan politik.  Belajar dari banyak kasus seperti itu, maka Indonesia pun akan terhindar dari konflik sara apabila para pemeluknya dapat memahami agama dengan benar. Pelaksanaan agama dengan benar akan menciptakan ketakwaan dan sikap toleransi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat pluralistik  dan menjadi alat pemersatu sebagai kekuatan dalam pembangunan bangsa.

 

Masyarakat Pluralistik dan Iman Kristiani

Masyarakat pluralistik terbentuk dari  keberagaman latar belakang etnis, budaya dan agama ataupun  kepercayaan. Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia diikat oleh falsafah hidup atau “Pancasila” sebagai ideologi Negara yang mempersatukan kepelbagaian potensi bangsa. Kemajemukan  sebagai sebuah kerangka yang mengakomodasi interaksi berbagai kelompok masyarakat dengan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Tanpa konflik, mereka hidup bersama (koeksistensi) dan mewujudkan hasil yang dicita-citakan bersama.  Masyarakat plural adalah  salah satu ciri khas masyarakat modern yang sangat diperlukan dalam mencapai tujuan modernisasi, kemajuan  ilmu pengetahuan, dan pembangunan bangsa. Dalam masyarakat plural, dibutuhkan demokrasi yang dapat menghasilkan partisipasi dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama.  Namun demikian, pluralisme agama  belum tentu sesuai dengan pemahaman masing-masing agama karena masing-masing keyakinan bersifat absolut. Pluralisme agama (Religious Pluralism) jangan disalah mengertikan dengan ‘toleransi’, karena istilah ‘Pluralisme Agama’  adalah berbeda sama sekali. Dalam tradisi Kristen sendiri, terdapat tiga cara pendekatan teologis terhadap agama lain :

 

  • Eksklusivisme: Pendekatan  yang memandang hanya orang-orang menerima Alkitab (Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru selamat) yang akan diselamatkan. Di luar itu, tidak ada  keselamatan.
  • Inklusivisme : Pendekatan yang berpandangan, meskipun Kristen adalah  merupakan agama yang benar, tetapi keselamatan juga mungkin terdapat pada agama lain.
  • Pluralisme: Pendekatan yang memandang semua agama adalah jalan yang sama-sama benar sehingga  tidak ada agama yang dipandang lebih superior dari agama lainnya.

 

Di dalam Negara Pancasila setiap warga dan agama memiliki kebebasan untuk memilih salah satu dari pendekatan tersebut diatas dalam konteks kesatuan dan persatuan. Memilih  salah satu pandangan diatas tidak boleh mengurangi semangat toleransi antar umat beragama dan hal ini sudah terbukti dapat dilakukan, saling menghormati antar suku dan ras dan agama meskipun berbeda-beda. Dalam menunaikan kepercayaannya  setiap kelompok agama tidak boleh mengganggu kenyamanan atau memaksakan kehendaknya kepada yang lain. Namun penting dicatat, sebagai agama misi maka sebagaimana agama-agama lainnya juga, setiap agama tidak boleh dilarang untuk memberitakan ajaran-ajaran agama-agama itu dan bagi mereka yang tertarik, dapat mempelajarinya secara terbuka dan apabila tertarik mereka pun dengan bebas dapat menganutnya atau berpindah kepercayaannya sesuai dengan undang-undang kebebasan untuk memeluk agama dan menjalankan ibadahnya. Tidak boleh ada yang menekan dan mengancam.  Agama Islam, Kristen, Hindhu dan Budha sudah seharusnya  memandang agamanya yang paling benar.